subscribe: Posts | Comments

Bagaimana Masyarakat Kampar Beradaptasi dengan banjir

0 comments
Bagaimana Masyarakat Kampar Beradaptasi dengan banjir

Syafrizaldi, The Jakarta Post – Banjir telah menjadi peristiwa tahunan yang tak terelakkan bagi masyarakat yang tinggal di sepanjang tepi Sungai Kampar di Propinsi Riau. Di mana-mana pemukiman tergenang termasuk lahan pertanian, dan jalan pun tak luput dari genangan. Meskipun dalam kondisi suram tersebut, warga tetap berdoa dan berharap pemerintah daerah bisa melakukan sesuatu untuk memperbaiki situasi, namun di satu sisi mereka yang tinggal di tepi sungai telah menemukan cara untuk menghadapi situasi banjir seperti ini.

Hari itu adalah hari keempat genangan banjir di desa tempat Naufal tinggal, namun orang di desa itu tampaknya telah terbiasa dengan kondisi ini, bahkan belum ada bantuan/pertolongan yang masuk, meskipun media massa telah melaporkan wilayah ini berada pada pada tingkat banjir yang parah.

Naufal (4 tahun), menatap dengan tajam ke arah genangan berlumpur di pinggir sungai Lipai, anak sungai dari Sungai Kampar. Dengan hati-hati dan semangat ia beringsut pelan-pelan mendekat ke sungai untuk melihat lebih jelas ikan yang sedang diburu, karena gerakan tiba-tiba akan bisa menakuti ikan.

“Jika kami berhasil menangkapnya, akan segera kami masak,” katanya semangat. Dengan tongkat kayu panjang, ia aduk air perlahan berulang kali dalam upaya untuk menangkap Motan (ikan kecil berduri), sampai seketika salah satu ikan berenang ke arah tongkat tadi.

“Hore, aku dapat satu!” teriak Naufal gembira. Dia taruh ikan hasil tangkapannya ke dalam kantong plastik dan bersiap untuk menangkap ikan lagi. Dalam usia yang sangat muda, ini adalah pengalaman pertama Naufal menangkap ikan sendiri selama banjir besar menerjang desanya. Saudaranya, empat tahun lebih tua, mengawasinya dari jarak dekat, sementara ayahnya tersenyum, menonton anak-anak bermain di tepi sungai sambil mempersiapkan jaring ikan.

berselancar-teluk meranti

Berselancar : Seorang anak berselancar di atas genangan banjir di Desa Teluk Meranti, tepian Sungai Kampar, Provinsi Riau.(JP/Syafrizaldi)

Naufal tampak senang bermain di sungai sambil menangkap ikan hingga sore merambat. Naufal juga ikut membantu ayahnya mengutip ikan yang terperangkap di sela-sela jaring. Setelah seharian bermain dan membantu ayahnya, Naufal memisahkan ikan hasil tangkapannya dari ikan hasil menjaring ayahnya, sambil mengatakan ia ingin menggoreng ikan hasil tangkapannya sendiri.

Naufal dan keluarganya bukanlah satu-satunya yang menangkap ikan saat banjir melanda desanya, warga desa sekitar juga melakukan hal yang sama dan mengungkapkan bahwa mereka berhasil menangkap sekantong ikan di saat tingkat air cukup tinggi.

Warga desa lain, Rakhmat (56 tahun) dari desa Siabu Kabupaten Kampar, sambil duduk di teras rumahnya asyik membersihkan ikan hasil tangkapannya dari sebuah bekas tambang timah di desanya. Kira-kira 300 lubang tambang telah berubah menjadi tambak. Tambang ditutup 40 tahun yang lalu dan meninggalkan kolam yang penuh dengan ikan.

“Ketika saya masih muda, masih ada truk timah dan kapal keruk, tetapi sekarang sudah hilang dan besi-besi bekas yang tersisa pun telah dijual,” ujar Rakhmat.

“Biasanya saya hanya mendapatkan 2 hingga 3 kg ikan setiap hari. Ketika banjir datang, jumlah bisa meningkat menjadi 15 kg,” katanya. Pada 10 Maret yang lalu, ia berhasil mengumpulkan 12 kg ikan, dan diolah menjadi 3 kg ikan asap. Ia mengolah ikan di samping rumahnya dengan menggunakan onggokan kayu bakar di dalam tungku sederhana kemudian kayu dibakar untuk mengasapi ikan.

“Api untuk mengasapi ikan tidak boleh terlalu besar, jadi kobaran api harus terus diawasi pada tungku,” katanya.

Rakhmat lalu mengambil semangkuk isi perut ikan yang berasal dari ikan sebelumnya yang telah dibersihkan, kemudian ia jatuhkan isinya ke atas pembakaran kayu. “Isi perut yang terbakar akan membuat ikan asap rasanya lebih lezat,” ungkapnya.

Setelah lebih dari dua jam, ikan asap dikemas dalam kantong plastik untuk dijual keesokan harinya. Di pasar Bangkinang, Rakhmat menjual ikan ini kepada pelanggannya seharga Rp 55.000 (US $ 4.12) per kg.

Beberapa kilometer ke hilir dari Lipai ke arah Timur, angin dari Sungai Kampar terasa berhembus di sekitar desa Teluk Meranti. Banjir yang terjadi baru-baru ini membawa suka cita bagi anak-anak di desa. Sebuah dataran kecil di pusat desa kemudian mereka ubah menjadi tempat berselancar. Di desa ini, terkenal dengan Bono, adalah pertemuan gelombang laut dengan arus sungai membentuk puncak gelombang besar yang disebut oleh masyarakat tempatan dengan Bono, dan puncak gelombangnya bisa mencapai 3 meter.

Ubay, (6 tahun) bersama anak-anak yang lain mencoba untuk menaiki gelombang Bono tersebut. Beberapa anak-anak yang tubuhnya lebih besar membantu mendorong air untuk membentuk gelombang. Meskipun jatuh beberapa kali, Ubay akhirnya bisa menjaga keseimbangan sambil membentangkan lengannya.

Natural preservation: Rakhmat smokes fish in Siabu village

Rakhmat dari Desa Siabu sedang mengasapi ikan.(JP/Syafrizaldi)

“Ketika banjir melanda wilayah desa ini, kami melakukan pendampingan, meskipun kami tidak mampu melatih mereka berselancar,” kata Harry Oktavian.

Walaupun sepertinya menyenangkan, tetapi banjir tetap menjadi bencana yang dapat mengancam nyawa dan merusak harta benda lainnya. Demikian ungkap Harry Oktavian, Direktur Ekekutif Scale Up, salah satu NGO yang berdomisili di Pekanbaru. Ia melanjutkan, meskipun korban banjir di sekitar Sungai Kampar mencoba untuk beradaptasi dengan baik, namun tim penanggulangan bencana tetap diperlukan.

Masyarakat, katanya, seharusnya tidak dipaksa sendiri berhadapan dengan bencana banjir. Peristiwa banjir sudah jelas disebabkan oleh dampak yang merugikan akibat konversi hutan menjadi wilayah perumahan atau pemukiman, dan kewajiban pemerintah untuk memperbaiki situasi ini dengan melestarikan hutan alam.

“Banjir tidak hanya terjadi di sepanjang Sungai Kampar. Seluruh zona DAS di Riau juga mengalaminya karena telah rusak parah,” terang Harry. Dijelaskannya, daerah Lipai dan sebagian besar daerah tangkapan air di Sungai Kampar merupakan hutan alam dataran rendah, dan kini telah diubah menjadi perkebunan berskala besar. konversi ini telah menciptakan berbagai konflik lahan. Dan sejak tahun 2007, Scale Up telah mencatat 526 titik konflik lahan di Riau yang meliputi sekitar 2,2 juta hektar lahan.

Tanpa praktek mitigasi banjir yang tepat, maka penduduk setempat yang tinggal di dekat Sungai Kampar akan terus menderita banjir. Sementara itu, mereka yang tersisa, terpaksa untuk bertahan hidup dengan cara menangkap ikan, seperti yang dilakukan si kecil, Naufal. Demikian tutup Harry.

Sumber :
http://www.thejakartapost.com/life/2017/04/04/how-the-kampar-people-adapt-to-floods.html

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture. Click on the picture to hear an audio file of the word.
Anti-spam image