subscribe: Posts | Comments

Catatan Akhir Tahun Scale Up : Data Konflik SDA Riau 2017

0 comments
Catatan Akhir Tahun Scale Up : Data Konflik SDA Riau 2017

Scale Up, Pekanbaru – Konflik tenurial merupakan permasalahan klasik yang ada  sejak lama. Permasalahan yang sudah lama tersebut, seharusnya dapat memberikan pembelajaran untuk pencegahan maupun penyelesaian konflik yang lebih efektif.  Sebaliknya, justru konflik selalu menunjukkan peningkatan jumlah dalam setiap tahunnya.

Dalam catatan akhir tahun Scale Up, sedikitnya terjadi 76 konflik dengan luasan konflik mencapai 161.177 hektar. Terjadi peningkatan jumlah konflik jika dibandingkan dengan tahun 2016 yang berjumlah 73 konflik.

“Peningkatan konflik sendiri dilatarbelakangi akan dua hal, pertama masih adanya pertentangan dalam ranah regulasi di antara instansi pemerintah.  Kedua, berlarut-larutnya penyelesaian konflik karena belum adanya mekanisme dan lembaga yang secara efektif menangani konflik,” papar Direktur Eksekutif Scale Up, Harry Oktavian.

Tenurial yang melingkupi tanah, hutan, dan sumberdaya lainnya berkaitan langsung dengan kepentingan hidup masyarakat, sehingga seseorang akan mempertahankan wilayahnya yang terancam dirampas. Tak pelak konflik berakibat jatuhnya korban jiwa. Tercatat ada 2 orang tewas, 6 orang ditahan, dan 7 orang luka-luka sepanjang tahun 2017.

Adanya dua orang tewas menjadi korban konflik pada tahun ini, merupakan pukulan telak akan upaya-upaya penyelesaian konflik di tingkat tapak. Semua stakeholders tidak dapat lagi saling lempar tanggung jawab.

Tipologi aktor sendiri masih didominasi oleh konflik antara masyarakat dengan perusahaan sebanyak 66%. Sisanya konflik antara masyarakat dengan masyarakat 8%, masyarakat dengan cukong 7%, masyarakat dengan pemerintah 5%, pemerintah dengan pemerintah 4%, dan lainnya 10%.

Tidak setara, lanjut Harry, masyarakat selalu berada sebagai pihak yang lemah dengan belum adanya kepastian hukum diberikan atas ruang kelolanya. Sehingga tindak perampasan tanah, kehilangan akses ke hutan, dan penggusuran seringkali dialami oleh masyarakat sebagai pihak yang dirugikan.

Dari tiga sektor konflik yang ada di Riau, perkebunan merupakan sektor yang paling tertinggi, dengan 45 konflik dan luas 98.043 hektar. Dibandingkan dengan sektor kehutanan yang berjumlah 23 konflik dengan luas 62.634 hektar. Sedangkan untuk sektor tapal batas terjadi 8 konflik dengan luas 500 hektar.

Data konflik Provinsi Riau dihimpun dari 10 kabupaten dan 2 kota di Riau. Konflik terbanyak terjadi di Kabupaten Pelalawan dengan 20 konflik. Disusul dengan Kabupaten Siak 13 konflik, Kampar 8 konflik, Indragiri Hilir 8 konflik, Rokan Hilir 7 konflik, Kuantan Singingi 5 konflik, Bengkalis 5 konflik, Rokan Hulu 4 konflik, Indragiri Hulu 4 konflik, dan Kepulauan Meranti 2 konflik.

Lahan gambut dengan lahan mineral pun dibedakan atas konflik yang terjadi di dalamnya. Dibedakannya lahan gambut dengan mineral berangkat dari dua asumsi, pertama, gambut menjadi sebuah arena di tengah lahan mineral yang semakin terbatas. Kedua, perhatian terhadap penjagaan gambut melahirkan berbagai kebijakan. Konflik yang terjadi pada lahan mineral adalah 36 konflik, sedangkan pada lahan gambut 40 konflik.

Satu Dasawarsa Konflik Tenurial di Tanah Melayu

Setiap tahunnya Scale Up selalu mempublikasikan catatan konflik yang terjadi di Provinsi Riau. Pendokumentasian konflik sumberdaya alam yang terjadi dalam satu tahun dilakukan untuk mendapatkan gambaran data : jumlah, aktor, sektor, sebaran konflik, dan pengklasifikasian lainnya yang dikembangkan berdasarkan dinamika yang terjadi. Gambaran akan konflik dalam satu tahun, digunakan untuk menelisik lebih dalam, menganalisa akar konflik, eskalasi, sampai proses penanganan konflik.

Dari pantauan Scale Up, sejak 2007 hingga tahun ini, di Riau sedikitnya terjadi 631 titik konflik lahan, mencakup luasan hampir 2,4 juta (tepatnya 2.354.352) hektar. Sepanjang satu dasawarsa, konflik menelan korban meninggal sebanyak 19 orang. Belum dengan kerugian sosial-ekonomi lainya yang dialami para pihak.

Harry Oktavian, Direktur Eksekutif Scale Up saat diskusi bertema Satu Dasawarsa Konflik Tenurial di Bumi Melayu, pada Selasa, 9 Januari 2017 di ruang pertemuan Hotel Evo Pekanbaru tempat diskusi dan rilis data konflik SDA Riau berlangsung.

“Di Riau yang kaya dengan sumberdaya alam, namun konflik tenurial masih melanda. Ini sebuah ironi bagi bumi melayu,” tandas Harry.

Pemerintah menargetkan 12,7 juta hektar luasan lahan untuk Perhutanan Sosial (PS). Hal ini tercantum dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019. Ini menjadi babak baru dalam pengembangan perhutanan sosial di Indonesia. Di Riau, pencapaian ini menargetkan setidaknya 1,4 juta hektar lahan sebagai peruntukan Perhutanan Sosial. Dari target tersebut, Riau baru mencapai 38.000 hektar di tahun 2017.

Perhutanan Sosial dipercaya sebagai salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengembangkan potensi masyarakat dalam pengelolaan hutan berkelanjutan. Selain itu, Perhutanan Sosial juga menjadi bagian dalam upaya resolusi konflik pengelolaan sumberdaya hutan selama ini.

Rekomendasi

1. Mendorong implementasi Perhutanan Sosial dan TORA (Tanah Objek Reforma Agraria) untuk memberikan masyarakat kepastian hukum atas ruang kelolanya dan sebagai langkah resolusi konflik;
2. Mengefektifkan kembali komitmen yang dimiliki oleh pihak pemerintah dan swasta dalam melakukan penyelesaian konflik;
3. Pemerintah harus menyelenggarakan pelayanan publik dengan transparan, akuntabel, efisien, dan bertanggung jawab;
4. Memastikan calon gubernur yang maju dalam pemilihan kepala daerah memiliki komitmen untuk melakukan penanganan dan penyelesaian konflik;
5. Mendorong peran media massa dalam perbaikan kebijakan pengelolaan sumberdaya alam dengan menyajikan informasi tentang konflik tenurial;
6. Mengembalikan pengelolaan sumberdaya alam yang berorientasi pada industri skala besar kepada nilai kearifan lokal dan hukum adat.

(isomuddin – scale up)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture. Click on the picture to hear an audio file of the word.
Anti-spam image