subscribe: Posts | Comments

Darah Naga dan Perempuan Penjaga Bukit Betabuh

0 comments
Darah Naga dan Perempuan Penjaga Bukit Betabuh

Oleh : Istiqomah Marfu’ah

“Di tepi Bukit Betabuh, seorang perempuan memiliki cara sendiri dalam menjaga kelestarian hutan. Baginya, menjaga ialah bagaimana mengumpulkan sebanyak-banyaknya ceceran darah naga di dalam hutan. Darah naga yang awalnya hanya untuk keluarga, kini menjadi budidaya masyarakat Desa Air Buluh.”

Risma Wati (31), ibu 3 anak  yang akrab disapa Ides, terus berupaya menyelamatkan kawasan hutan lindung Bukit Betabuh. Bersama Kelompok Tani Bukik Ijau, mereka memulihkan kawasan Bukit Betabuh dengan darah naga. Kegiatan pemulihan, kian ditekuni dengan membudidayakan darah naga, atau yang dikenal dengan jernang (Daemonorops draco).

Saat ini jernang menjadi komoditas unggulan di wilayah Bukit Betabuh, Kuantan Singingi, Riau. Tumbuhan yang termasuk keluarga rotan ini dapat menghasilkan getah atau resin. Untuk 1 kilogram resin dibandroli harga mencapai 3 sampai 4 juta rupiah.  

“Pertama kali menjual getah jernang 250 ribu rupiah, beratnya sekitar 2 ons. Tapi kemarin jual sekilo sudah sampai 3,8 juta rupiah,” terang Ides.

Malam itu, kami lalui dengan suguhan cerita seputar jernang dan segala rupa tentang keseharian masyarakat. Aktivitas masyarakat Air Buluh masih sangat tergantung dengan sungai yang mengalir di sepanjang desa. Masyarakat menyebutnya Batang (sungai) Buluh. Ditemani senja yang mulai temaram, saya bersama Ides mencecap jernih nan segarnya air Batang Buluh. 

Terlihat beberapa perempuan masih beraktivitas di sungai saat itu. Saat azan magrib berkumandang, kami pun bergegas pulang. Batang Buluh tak terlalu dalam namun arusnya lumayan deras, dasarnya kerikil dan berpasir khas sungai-sungai yang berada di wilayah hulu. Begitu naik dari tebing sungai, rumput dan perdu terlihat di hamparan tanah yang menyerupai lapangan bola.

Keesokan harinya, saya bersama Ides serta suami dan kedua anaknya mengunjungi tempat pembibitan jernang Kelompok Tani Bukik Ijau. Tempat pembibitan terlihat sederhana, lahan seluas seperempat hektar dipagari jaring paranet mengelilingi pagar kayu disela-sela kebun karet. Dari luar pagar terlihat beberapa polybag kecil. Terlihat tunas bibit jernang mulai menampakan diri dari perrmukaan tanah. 

Tunas yang bermunculan dari dalam polybag itu sekilas mirip dengan anakan pohon salak. Daunnya hijau pipih memanjang dengan tulang daun sejajar (rectinervis), menunjukkan bahwa jernang adalah tumbuhan monokotil.

“Bibit ini kalau sudah cukup besar sebagian ditanam di hutan, sebagian lagi dijual. Harganya antara 25 ribu sampai  300 ribu rupiah, tergantung tinggi dan besar bibitnya,” papar Ides.

Sejak 2015, Ides seringkali keluar masuk Hutan Lindung Bukit Betabuh untuk mngumpulkan buah jernang. Keberadaan pohon jernang semakin sedikit di hutan, sehingga Ides mencoba untuk membibitkan jernang dari buah yang didapatkan.

Di sekitar kebun karet lokasi pembibitan, terlihat beberapa rumpun jernang tumbuh. Ides sengaja menanami jernang di lokasi tersebut agar nantinya lebih mudah memanen jernang dan dijadikan tempat uji coba budidaya jernang.

“Semakin terlindung jernang yang ditanam semakin baik,” terang ides.

Terlihat jelas perbedaan pertumbuhan jernang di sekitar kebun karet itu. Jernang yang terlindung oleh pohon karet tumbuh dengan daun lebih hijau dan tangkai daun lebih panjang. Sedangkan jernang yang terpapar matahari langsung tumbuh dengan daun agak kekuningan dan tangkai lebih pendek. Ides pun menjelaskan bahwa jernang yang ia tanaman di hutan tumbuh dengan sangat baik. Di hutan yang masih lebat jernang tumbuh subur karena terlindung dari paparan sinar matahari secara langsung, humus dari dedaunan pohon di hutan yang busuk menjadi pupuk alami. Tak heran jika jernang tumbuh lebih baik di dalam hutan.

Terdapat dua jenis jernang yang ides kembangkan bersama kelompoknya, jernang jantung dan jernang beruk. jernang jantung akan menghasilkan resin lebih banyak daripada jernang beruk. Jernang jantung harus diolah terlebih dahulu untuk mendapatkan resin untuk dapat dijual. Berbdesa dengan jernang beruk yang langsung dijual tanpa memisahkan resinnya terlebih dahulu. Harga jual jernang beruk lebih rendah daripada jernang super.

Di habitatnya, jernang biasanya tumbuh dengan membentuk rumpun, memanjat hingga ketinggian 30 meter. Batang jernang berbentuk bulat memanjang dan lentur, berdiameter 2-3 cm dipenuhi duri-duri kecil. Jernang akan mulai berbuah pada umur 2 tahun dan akan terus menerus berbuah sepanjang tahun. Melihat cara hidupnya, jernang sangat bergantung dengan pohon kayu sebagai tempat merambat dan bersandarnya buah.

Untuk membibitkan jernang terbilang sulit, butuh waktu lebih dari 6 bulan untuk menumbuhkan kecambah. Tingkat keberhasilan dari 1 kg jernang hanya 30% yang berhasil menjadi kecambah. Pembudidayaan Ides bersama kelompok, rupanya mematahkan kesulitan dalam pembibitan jernang. Mereka menemukan cara, yang menjadikan hampir 100% bibit jernang yang disemai dapat tumbuh dalam 1 bulan.

“Sekali panen jernang dari satu batang jernang bisa menghasilkan sekitar 3 sampai 3,5 kg buah jernang [dengan nilai rupiah] yang jauh lebih menguntungkan dibandingkan sawit,” tegas Ides.  

Pembangunan kebun sawit skala besar dan pembalakan liar menyebabkan kondisi Bukit Betabuh kian mengkhawatirkan. Tutupan hutannya semakin berkurang, sehingga menyebabkan jernang semakin susah ditemukan.  Kondisi demikian, mendorong Ides untuk membibitkan jernang dari buah yang ia dapat di hutan.

Disela aktivitas rumah tangganya, Ides bersama anggota kelompoknya aktif berkegiatan untuk memulihkan Bukit Betabuh. Saat ini, Kelompok Tani Bukik Ijau telah menanami 25 hektar lahan di Bukit Betabuh, dibantu Kesatuan Pengelola Hutan Lindung Kuantan Singingi.

Itulah sepenggal cerita liburan di Desa Air Buluh yang mempertemukan saya dengan perempuan tangguh bernama Ides. Dengan kepekaan menjaga keutuhan hutan, Ides bersama kelompok memulainya dengan budidaya jernang. Jernang memberikan secercah harapan baru bagi keutuhan hutan dan kesejahteraan masyarakat. Julukan darah naga menjadi tepat, saat jernang dapat manjaga denyut nadi perekonomian masyarakat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture. Click on the picture to hear an audio file of the word.
Anti-spam image