solusi tepat penanganan konflik di sektor perkebunan sawit

solusi tepat penanganan konflik di sektor perkebunan sawit

10 Oktober 2018 13

Konflik Sumber Daya Alam yang terjadi antara perusahaan dan masyarakat selalu menjadi sorotan menarik dan seakan tak ada habisnya. Riau sendiri sempat menjadi provinsi nomor satu di Indonesia yang paling banyak kasus konflik penguasaan sumber daya alam (SDA) sepanjang tahun 2014. Dalam laporan terakhir Scale Up, ada sebanyak 73 konflik SDA yang berhasil dihimpun oleh Scale Up pada tahun 2016. Angka tersebut meningkat di tahun 2017 yakni sebanyak 76 konflik.

Konflik-konflik SDA tersebut terjadi bukan hanya soal perizinan, namun juga terkait persoalan tata batas serta kekerasan yang dilakukan masing-masing pihak. Tercatat, selama tahun 2007 hingga 2017, jumlah korban akibat konflik SDA mencapai 17 orang.

Namun, saat ini perusahaan paham betul bahwa kekerasan bukanlah cara yang efisien untuk menyelesaikan konflik. Menurut Head Of NSE, SCR & GH Divsion PT. SMART Tbk, Zukri Saad, menyelesaikan konflik tak lagi mesti bertarung siapa paling kuat. Tak lagi menggunakan senjata, tak lagi dengan kekerasan yang melanggar norma-norma. Menangani konflik, tak melulu dengan kepala panas. Tak harus saling memberantas. Tak juga perlu menindas. Penyelesaian konflik mesti mendapat penanganan yang tepat, cermat, dan saling menghargai masing-masing pendapat.

“PT SMART Tbk saat ini telah membuka diri menjalin komunikasi verbal dengan masyarakat. Menemui masyarakat, bertatap muka dan mencari solusi yang tak membebani segala pihak,” sebut Zukri saat mengisi materi Pengalaman Penyelesaian konflik Sumber Daya Alam Melalui Mekanisme Alternatif Dispute Resolution (ADR) di Sektor Perkebunan Sawit di kantor Scale Up,

Dalam perjalanannya, beberapa konflik tak lantas selesai hanya dengan bertatap muka saja. Kesenjangan ekonomi, perbedaan pendapat, pengakuan dan rasa ketidakadilan menjadi bumbu semakin alotnya sebuah pertikaian. Perlu ada penanganan serius. Konflik tak mungkin didiamkan terus-menerus.

Perusahaan pun saat ini sudah lebih bijak dalam menyikapi satu pertikaian. PT. SMART Tbk misalnya, perusahaan ini telah menyusun SOP yang di dalamnya terdapat Social Policy untuk dijalankan dalam penanganan konflik dengan demikian masing-masing pihak mendapatkan win-win solution. Konflik tidak akan pernah selesai, jika tidak dimanajemen dengan baik. Sebaliknya, konflik bisa diantisipasi dengan baik jika konflik tersebut terlebih dahulu dikomunikasi dengan pihak terkait. Komunikasi harus terus berjalan demi menjaga keadaan agar terus kondusif.

“Perusahaan harus terus menjaga citra baik yang benar-benar baik. Citra perusahaan yang buruk akan berimbas pada terkendalanya proses jual beli. Seperti diketahui, pasar Eropa tidak akan menerima sebuah produk dari perusaaan yang berkonflik dengan masyarakat di sekitar perusahaan,” jelas Zukri.

Untuk meminimalisir konflik yang tidak sehat, PT. SMART Tbk telah memiliki tim direktorat sustainability sebanyak 300 orang. Jumlah yang cukup besar jika dibandingkan dengan perusahaan lain. Tim tersebut kemudian tersebar kedalam 11 provinsi di Indonesia dan di  luar negeri. Masing-masing anggota dalam tim telah memiliki sertifikat mediator yang dikeluarkan langsung oleh Mahkamah Agung.

 “Kami akan meningkatkan kapasitas penanganan konflik yang sehat dengan melakukan program pelatihan perspektif bisnis dan HAM tahun depan. Program ini diharapkan setiap mediator perusahaan mampu mengedepankan HAM dalam melakukan mediasi dengan pihak yang berkonflik,” imbuhnya.

 PT. SMART Tbk bukanlah perusahaan yang suka lepas tangan dan tak memperhatikan masyarakat yang ada di sekitar. Perusahaan ini memiliki cita-cita untuk mengembangkan masyarakat di sekitar perusahaan dengan cara memberikan bibit unggul. Perusahaan sadar betul, saat ini penyumbang devisa tertinggi di Indonesia masih dari sektor perkebunan khususnya kelapa sawit. Namun, pemberian bibit unggul kepada masyarakat bukanlah soal mencari keuntungan semata. Hal tersebut dimaksudkan agar masyarakat menghasilkan produk yang berkualitas. Masyarakat juga tak mesti pusing memikirkan akan dijual ke mana, karena perusahaan akan membeli produk- tersebut.

Menariknya, PT. SMART Tbk benar memperhatikan lingkungan, tak hanya menguras apa yang disediakan alam. PT. SMART Tbk memiliki sosial kebijakan lingkungan yang dijadikan sebagai kerangka kerjasama para pihak untuk menyelesaikan persoalan konflik dengan masyarakat. Adalah hal keliru jika selama ini banyak yang beranggapan bahwa PT. SMART Tbk bukan hanya perusahaan yang mengelola HTI, namun juga perusahaan raksasa yang memonopoli segala sektor mulai sektor perkebunan, perbankan, properti bahkkan sampai kepada sektor telekomunikasi.