Peserta Apresiasi Keberhasilan Scale UP Dalam Mengadakan Training Negosiasi

Peserta Apresiasi Keberhasilan Scale UP Dalam Mengadakan Training Negosiasi

24 Oktober 2018 133

Manfaat yang cukup besar dirasakan Mukhlis, salah satu peserta workshop evaluasi training negosiasi konflik yang dilaksanakan oleh Sustainable Social Develpment Partnership (Scale Up) pada 10 Oktober 2018 lalu di Surabaya. Ia menyebutkan sebelum mengikuti training negosiasi Scale Up, pihaknya terkesan memiliki banyak musuh. Hal yang berbeda dirasakan saat ia telah menyelesaikan training.

Jangankan perusahaan, aparat desa juga menjadi musuh kami. Namun setelah training, kami sudah memperbaiki komunikasi kepada para pihak, selagi selaras tujuannya, para pihak bisa menjadi teman, karena di sini dijelaskan kalau aspek komunikassi sangat penting,” katanya.

Disampaikan Mukhlis, dalam training negosiasi tersebut ia banyak mendapat pengetahuan baru untuk bekal menyelesaikan konflik, dari mulai persiapan hingga topik apa yang akan dibawa ketika berhadapan dengan pemerintah ataupun perusahaan. Dia bilang, refleksi dari penerapan proses negosiasi juga menjadi penting untuk evaluasi langkah selanjutnya yang akan dilakukan.

Satu-satunya lembaga yang konsen pada skema ini hanyalah Scale Up, besar harapan kami dalam proses ini untuk menjadi gerakan bersama pada proses advokasi,” pungkasnya.

Hal senada diungkapkan oleh Nando, salah satu peserta yang berasal dari Teluk Meranti, Riau. Ia mengaku sudah empat kasus yang berhasil diselesaikannya bersama Scale Up.  Ia berharap ke depan, dengan kegiatan seperti ini, ia akan semakin sering dipertemukan dengan pihak yang benar-benar terkait, baik dari perusahaan maupun pemerintahan. Sehingga banyak pembelajaran yang bisa ia dapatkan untuk bekal menyelesaikan konflik di daerahnya.

Direktur Scale Up, M Rawa El Amady mengaku bahagia mendengar kegiatan yang ia selenggarakan mendapat respon positif hampir di seluruh peserta. Banyaknya pembelajaran yang bisa diterapkan peserta dalam menangani konflik di daerah mereka merupakan keberhasilan dari pelaksanaan kegiatann training negosiasi konflik oleh Scale Up.

“Harapannya, kami selalu hadir memberikan training-training dan kegiatan pembelajaran lainnya yang dapat membantu peserta untuk siap menghadapi konflik, terutama konflik Sumber Daya Alam (SDA),” sebutnya.

Dalam workshop ini, Scale Up juga mengahadirkan beberapa pemateri, di antaranya Direktur IMN Ahmad Zazali, Direktur Perlindungan Perkebunan Kementerian Pertanian Dudi Gunadi dan Kepala Seksi Negosiasi dan Meditasi Dinas KLHK  Daru Adianto.

Disampaikan Direktur IMN Ahmad Zazali, ilmu negosiasi yang sudah dipelajari adalah penting untuk diterapkan. Mengingat saat ini konflik bukan lagi menjadi hal negatif, namun konflik sudah menjadi gaya hidup.

“Harus kita akui, dalam kehidupan sehari-hari kita banyak terdapat perbedaan yang menimbulkan konflik. Oleh karena itu penting pada kita untuk memahami ilmu negosiasi untuk resolusi konflik. Hal pertama yang harus dilakukan adalah pemetaan konfliknya. Tidak semua konflik itu dapat diselesaikan dengan penegakan hukum, karena ada banyak cara penyelesaian konflik,” jelasnya.

Apa lagi menurut Kepala Seksi Negosiasi dan Meditasi Dinas KLHK, Daru Adianto menyebutkan bahwa Pulau Sumatera menunjukkan peta konflik yang tinggi. Untuk itu, pendidikan negosiasi sudah seharusnya diterapkan sejak dini.

Di Singapura, hal ini sudah dilakukan. FBI juga sudah menerapkan negosiasi pada proses interogasi sejak tahun 1992. Pemerintah berupaya menyiapkan skema terkait peraturan terbaru tentang reformasi agraria. Ada beberapa hal yang menjadi ukuran suksesnya penanganan konflik, seperti kosongkan kepala. Jangan terlalu ambisi untuk mencurahkan semua hal dan pahami lawan bicara dengan baik,” sebutnya.