Berbagi Pengalaman Penyelesaian Konflik Sumber Daya Alam

Berbagi Pengalaman Penyelesaian Konflik Sumber Daya Alam

31 Oktober 2018 32
Konflik Sumber Daya Alam (SDA) dan lingkungan (natural resources coflict) adalah konflik sosial yang berpusat pada isu claim dan reclaiming penguasaan SDA (tanah atau air) sebagai pokok sengketa terpenting. Dalam banyak hal, konflik SDA berimpitan dengan konflik agraria, di mana sekelompok orang memperjuangkan hak-hak penguasaan tanah yang dicatut sebagai properti mereka melawan negara, badan swasta atau kelompok sosial lain. Konflik biasanya terjadi dengan pola, pelaku dan korban yang sama dan terus berulang. Pelaku yang terlibat konflik adalah perusahaan besar swasta, sisanya aparat dan pemerintah.
 
Banyak pemicu terjadinya konflik. Namun konflik yang terjadi selalu disebabkan persoalan ketimpangan kepemilikan tanah, penguasaan dan pengelolaan Sumber Daya Alam. Ketimpangan struktur agraria menjadi persoalan yang belum terselesaikan, bahkan kasusnya meningkat.
 
Dalam dua tahun terakhir, pengaduan yang masuk ke Scale Up terus meningkat. Dimulai pada 2016, tercatat sebanyak 23 kasus konflik SDA yang terjadi di Riau. Kemudian meningkat di tahun 2017 sebanyak 26 kasus. Tak urung menurun, terhitung awal tahun 2018 hingga Agustus, konflik SDA di Riau mencapai angka 28 kasus. Scale Up sendiri sejak berdiri pada tahun 2007, telah memfaslitasi sebanyak 16 kasus konflik SDA di Riau.
 
Konflik SDA juga dirasakan oleh APRIL yang mengelola kawasan konservasi sejak tahun 2015. Hal tersebut terjadi karena kawasan konservasi yang diberikan izinnya kepada perusahaan tersebut telah ditempati oleh masyarakat sejak lama, sebelum izin kawasan dikeluarkan oleh negara. Artinya selama puluhan tahun masyarakat sudah menjadikan lahan tersebut sebagai pemasok kebutuhan ekonominya, seperti mengambil ikan yang berada dalam aliran Sungai Serkap yang berada di kawasan konservasi tersebut.
 
Belum lagi persoalan kebakaran lahan dan hutan yang melanda Indonesia pada 2015. Kebakaran ditengarai banyak berasal dari lahan gambut dan menambah emisi Gas Rumah Kaca. Lahan gambut dengan kelembapan yang tidak terjaga dengan baik memiliki tingkat risiko kebakaran tinggi. Sehingga, APRIL berkomitmen menjaga lahan gambut melalui program Restorasi Ekosistem Riau.  
 
RER kemudian dijalankan oleh tiga perusahaan swasta yang mendapat izin kelola konservasi. Perusahaan tersebut yakni PT Gemilang Cipta Nusantara yang meliputi dua Estate di Pulau Padang Padang dan Semenanjung Kampar. Kemudian PT TBOT dan GAN.
 
RER diresmikan pada tahun 2013 oleh APRIL Group. RER merupakan kolaborasi antara sektor publik dan swasta untuk kegiatan restorasi dan konservasi di Semenanjung Kampar pada hutan gambut yang bernilai ekologis tinggi.

Perusahaan produsen kertas dan pulp di bawah Royal Golden Eagle (RGE) Gorup itu melakukan pemulihan kawasan ekosistem gambut seluas 150.000 ha di Semenanjung Kampar dan Pulau Padang, Riau setelah memperoleh Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu Restorasi Ekosistem (IUPHHK-RE) selama 60 tahun dan mulai beroperasi sejak tahun 2013. Dalam menjalankan upaya restorasi ini, Restorasi Ekosistem Riau didukung oleh lebih dari 100 personil di mana 70 di antaranya merupakan jagawana yang secara khusus menjaga kemanan kawasan RER.


RER juga bekerjasama dengan para nelayan dari Teluk Meranti dan Pulau Muda untuk memastikan para nelayan memilih akses yang aman. Hal ini dikarenakan sungai di dataran rendah hutan gambut Sumatera digunakan masyarakat suku Melayu sebagai jalur tranportasi tradisional dan sarana untuk memancing. Semenanjung Kampar di Provinsi Riau tersebut masuk dalam kawasan hutan lahan gambut terakhir dan terbesar di Sumatera. Mengutip laman resmi APRILDIALOG, The Nature Conservancy mencatat luasan blok hutan gambut di Semenanjung Kampar adalah 344.000 ha sehingga, kualitasnya dijaga dan terus membaik dan memberikan hubungan penting antara blok-blok hutan alam yang tersisa di Riau dan kawasan Konservasi Satwa Liar Kerumutan (Kerumutan Wildlife Conservation).

Dalam kawasan tersebut terdapat empat sungai yang mengalir, yakni Sungai Kutup, Sungai Turip, Sungai Serkap dan Sungai Sangar. Masing-masing sungai memiliki panjang mencapai 20 hingga 30 kilometer ke kubah pusat inti gambut di Semenanjung Kampar. Sungai-sungai tersebut kaya akan biota akuatik seperti ikan. Selain itu, keempat sungai tersebut mendukung tumbuhnya beragam populasi pohon, anggrek, burung, mamalia dan hewan air lainnya. Total spesies mencapai lebih dari 500.

Kerjasama RER dan Nelayan ini terjalin sejak Oktober 2016. Sebanyak 21 nelayan yang tergabung dalam “Kelompok Nelayan Serkap Jaya Lestari” atau “Succesfull and Everlasting Serkap Fishing Group”  menandatangani perjanjian bersama RER. Atas jalinan kerjasama ini, nelayan masih diperbolehkan menangap ikan seperlunya. Begitu nelayan memiliki cukup ikan, mereka berjalan pulang kembali ke desa untuk menjual ikan hasil tangkapan, tentu dengan melewati pos pemeriksaan apakah hasil tangkapan sesuai dengan standar penangkapan yang telah disepakati bersama.

Disampaikan Direktur of External Affairs Restorasi Ekosistem Riau Nyoman Iswarayoga, pada awal menjalankan tugas,  tim RER menemukan penebangan liar dan pembuatan kanal liar di area konsesi restorasi ekosistem. Sebelumnya, hutan ini dikelola sebagai restorasi ekosistem. Kawasan ini merupakan hutan produksi yang mengalami penebangan liar sehingga di dalamnya juga sudah terdapat kanal-kanal yang dibuat untuk memindahkan kayu dari dalam hutan. Akibatnya, banyak bagian hutan terbuka. Dalam catatan pemetaan tim konservasi RER menemukan 116 km kanal liar atau 36 kanal yang dibuat untuk mengalirkan kayu hasil penebangan liar.  

“Pada hutan yang sudah terbuka, tim RER perlu menanam kembali  ratusan hektar saja. Namun, yang lebih penting adalah membuat canal blocking atau membuat dam-dam untuk menutup saluran air sehingga lahan gambut tetap basah. Karena kawasan ini merupakan lahan gambut,” katanya.

Pembuatan sekat kanal diperlukan untuk menaikkan kembali ketinggian muka air guna mengembalikan fungsi hidrologis di lahan gambut tersebut meminimalisir risiko kebakaran hutan dan lahan. Hingga 2017, pembuatan sekat kanal menjangkau sepanjang 27,9 km atau 8 kanal dengan 23 tanggul. Pada 2018, pembuatan sekat kanal direncanakan dapat menjangkau 43 km atau 9 kanal dengan 27 dam.

Nyoman mengatakan tidak mudah membuat kanal blocking seiring medan yang sulit dan berada pada remote area. Setiap dam membutuhkan 100-400 karung pasir batu, di mana setiap karung memiliki bobot 25 kg. Tim RER terus berinovasi mencari materi yang memiliki bobot lebih ringan dan daya tahan lebih lama, sehingga memudahkan dalam membuat sekat kanal.

“Dalam Restorasi Ekosistem Riau dilakukan dengan menanam di kawasan yang tutupan hutannya berkurang dan melakukan kanal blocking yang sebelumnya dibangun untuk mengangkut kayu keluar dari kawasan hutan,” imbuhnya.

Hasilnya, kata dia, program Restorasi Ekosistem Riau yang berjalan di tahun ketiga ini efektif mengurangi kebakaran hutan, penebangan liar, serta mengembalikan keanekaragaman hayati pada hutan produksi. Sejak kebakaran hutan dan lahan besar pada 2015 lalu hingga akhir tahun ini, tercatat tidak ada kebakaran lahan gambut maupun penebangan liar di area konsesi. 

Selain itu, untuk mencegah kerusahakan hutan baik dari penebangan ilegal maupun kebakaran lahan, RER bersama APRIL merangkul masyarakat untuk bersama-sama meletarkan hutan. Salah satu cara yang dilakukan yaitu dengan memberikan pelatihan teknik pembukaan lahan tanpa membakar, mengenalkan jenis tanaman yang cocok di lahan gambut seperti hortikultura, dan teknik bercocok tanam organik.

Masyarakat juga diberikan ternak. Tujuannya, masyarakat dapat memanfaatkan kotoran ternak  sebagai bahan baku kompos dan fasilitasi air bersih. Dengan demikian, Nyoman meyakini prinsip keberlanjutan lingkungan, sosial, dan ekonomi dapat seimbang. Masyarakat dapat turut menjaga lingkungan tanpa kehilangan pendapatan sehari-hari.


Nyoman mengatakan program Restorasi Ekosistem Riau pada akhirnya memberikan keuntungan bagi bisnis penge lolaan hutan dalam jangka panjang. Sebab, modal utama dalam bisnis pengelolaan hutan adalah tanah, air, sinar matahari, dan oksigen, yang harus dijaga sehingga mampu mendorong produktivitas dan pasokan bahan baku bagi industri. 

Dia mengatakan program yang telah memasuki tahun ketiga ini dapat menjadi model bisnis pengelolaan hutan berkelanjutan. Selain komitmen APRIL menjaga ekosistem gambut, pemerintah perlu mendorong agar model bisnis pengelolaan hutan serupa dapat dikembangkan lebih banyak pada perusahaan hutan tanaman industri.