subscribe: Posts | Comments

Dilema Kopi Sengkuang

0 comments
Dilema Kopi Sengkuang

“Ketika buah kopi dianggap ancaman bagi konservasi Bukitkaba. Supriyanti (38) bersama para petani mulai berupaya meniti jalur kolaborasi. Satu upaya agar sengsara tak menerpa para petani kopi Sengkuang.”

Jelang siang, langit belum juga membiru. Gumpalan awan hitam masih tetap terjaga sejak subuh tadi. Semu pirau kabut mengendap di balik daun-daun teh yang terhampar di punggung Bukitkaba, Kabupaten Kepahiang, Bengkulu. Suguhan pemandangan sebelum memasuki wilayah perkebunan dan pengelolaan kopi Sengkuang.

Supriyanti sedang duduk memilah dan memilih buah kopi di beranda rumah. Dengan jemari mungilnya, ia mengais satu persatu buah merah ranum dan memindahkan dari bakul ke tampi anyaman bambu bulat. Sesekali tangannya menyibakkan kain jilbab ke pundak. Matanya tetap terjaga dalam ketelitian memisah buah kopi berwarna merah dan hijau.

Ranum merah buah kopi sengaja dipisahkan untuk hidangan si Moli, nama seekor luwak yang dipeliharanya sejak empat tahun lalu. Saban hari Supriyanti memberi daging, pepaya dan susu ke Moli. Ia tidak ingin badan sintal Moli menjadi kurus dan jatuh sakit.

Moli…Moli… makanan datang,” suara Supriyanti dengan nada manja memanggil sembari menyuguhkan buah kopi.

Luwak (Paradoxurus hermaphrodirus) merupakan hewan nokturnal yang gemar memakan buah-buahan masak. Termasuk buah kopi yang masak menjadi cemilan kegemaran si Moli. Biji dari buah kopi yang dilahap Moli, dikeluarkan kembali bersama ampas pencernaan. Kemudian biji kopi dicuci dari remah reniknya ampas pencernaan. Kopi luwak kian digandrungi para penikmat kopi karena cita rasa yang memukau.

Memilah buah kopi merupakan perkerjaan sehari-hari bagi kebanyakan masyarakat yang bermukim di desa Bandungjaya, atau yang dulu dikenal dengan nama Sengkuang. Sengkuang merupakan daerah yang diperuntukkan orang-orang yang sengaja didatangkan dari pulau Jawa. Bapak dari Supriyanti merupakan salah seorang dari generasi pertama yang ikut dalam program transmigrasi yang dicanangkan Soekarno pada 1954 silam.

Dengan berjalannya waktu dan situasi politik yang berubah, Sengkuang kemudian terbagi ke delapan desa. Bandungjaya salah satu desa dari delapan desa yang ada sekarang, yaitu Sidorejo, Tugurejo, Bukitsari, Mekarsari, Sumbersari, Sukasari, Bandungbaru.

Rintik hujan turun tak beritme, kadang deras, berinai lalu melesap bersama angin. Hujan menyisakan bulir-bulir air di atap plastik balai pengeringan biji kopi. Setelah biji kopi dibersihkan, Supriyanti menghamparkan biji berwarna coklat pasi di balai pengeringan bertingkat dua. Sekilas menyerupa petala kecil dengan permukaan yang tak rata.

“Dalam proses pengeringan, biji kopi tidak boleh dihamparkan di tanah apalagi di aspal. Minimal berjarak setengah meter dari tanah, agar biji kopi tetap terjaga kebersihannya,” papar Supriyanti.

Dari belakang rumah menyerbak aroma harum sangraian biji kopi. Satu ruangan khusus disiapkan untuk mengubah warna biji kopi coklat pasi menjadi hitam. Wajan penyangrai kopi sudah digantikan dengan mesin bertabung bulat. Ini membantu untuk menakar secara merata tingkat kekeringan biji kopi.

“Proses penyangraian tidak lagi menggunakan wajan di atas tungku kayu bakar. Sekarang sudah menggunakan mesin,” ujar Supriyanti.

Supriyanti bersama suaminya telah menekuni berkebun kopi sejak mereka berdua masih lajang. Keberadaan kebun kopi sendiri sudah dikerjakan masyarakat pada zaman orde lama. Sebelumnya biji kopi mentah langsung dijual kepada toke. Lambat laun, mereka olah biji kopi sampai bentuk kemasan bubuk. Kemasan kopi berwarna merah, silver, hitam dan plastik transparan dengan merek Kopi Bagus, menghiasi etalase depan rumahnya.

Pada 2015, Supriyanti mendapatkan amanat untuk mengemban tugas menjadi kepala desa Bandungjaya. Ada berbagai usulan masyarakat yang perlu ditampung dan dilaksanakan. Ada juga persoalan di depan mata yang mesti dibenahi.

“Ini amanat dari masyarakat yang sangat berat. Karena itu saya akan menjalankannya bersama-sama masyarakat,” ujar Supriyanti.

Desau angin datang dari arah kebun kopi masyarakat di perbukitan Kaba. Aroma wangi menyeruak dari bubuk kopi yang melarut bersama air panas. Asap tipis dari bibir gelas bening kaca sudah mengepul di meja. Supriyanti mulai bercerita pengalamannya yang dirundung kekhawatiran dan ketakutan saat memetik buah kopi di Bukitkaba.

“Pulang…pulang… ada operasi!” teriak Supriyanti memanggil masyarakat yang berada di kebun kopi.

Ketika mendapatkan informasi akan dilakukan operasi pihak BKSDA bersama aparat keamanan, Supriyanti bergegas menuju kebun kopi. Jalan setapak licin menaiki dan menuruni bukit tidak dihiraukannya. Sempat mesin motor Supriyanti tak lagi berdaya menggerakkan rantai roda. Ia terus lari tunggang langgang sembari teriak memanggil warga yang berada di kebun kopi. Supriyanti tidak ingin ada masyarakat yang akan ditangkap oleh aparat karena dituduh sebagai perambah.

“Entah sudah berapa kali saya jatuh tergelincir saat lari menuju kebun kopi. Dalam satu tahun, operasi sering kali dilakukan tanpa diduga. Untuk menerka awal mula kejadiannya pun saya suduh lupa. Yang jelas, tahun 2011 terjadi pengusiran kebun dan penangkapan petani kopi,” papar Supriyanti.

Dari data yang dihimpun oleh AKAR Foundation, konflik bermula pada saat Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) mengeluarkan surat pelarangan aktivitas berkebun di kawasan TWA Bukitkaba tahun 2007. Daerah Sengkuang atau yang kini menjadi delapan nama desa menjadi penerima dari surat pelarangan yang dilayangkan oleh BKSDA.

Pada 2014, Bukitkaba ditetapkan sebagai kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Bukitkaba dengan luas 14.650,51 ha. Penyelamatan ekosistem berbasiskan pengamanan kawasan menjadi landasan utama pemerintah menetapkan Bukitkaba sebagai kawasan TWA.

Cuma cahaya bulan, lanjut Supriyanti, satu-satunya penerangan saat panen buah kopi yang dilakukan pada malam hari. Dengan langkah mengendap-endap menuju kebun kopi. Bola mata terbelalak mengawasi keadaan sekitar dengan waspada. Jika ada gerak yang mencurigakan, para petani beringsut masuk di antara semak. Ini dilakukan agar tidak diketahui oleh pihak BKSDA dan aparat keamanan.

Aroma harum kopi pun mengudara bersamaan kabut di Bukitkaba yang semakin pekat. Baru tiga teguk kopi luwak disesap, gelas sudah mendingin. Baru tahun ini berkebun kopi tidak diwarnai dengan kejar-kejaran dan penangkapan.

“Ini berkat upaya bersama petani kopi meniti langkah bersama,” tandas Supriyanti.

Biji kopi memiliki berbagai kisah perjalanan panjang dan meliku sebelum tersanding pada cangkir di tubir kafe ataupun rumah. Buah kopi yang menyerupa buah ceri pertama kali ditemukan oleh penggembala domba bernama Kaldi asal Abyssinia, sekarang Ethiopia. Racikan biji kopi berkembang pesat di negara-negara timur. Sejarah juga mencatat tujuh butir bibit kopi diselundupkan Baba Budan dari Jazirah Arab ke India pada abad 15.

Berbagai fatwa pernah menghujam pada biji berwarna hitam ini. Ia sempat dikatakan sebagai ‘minuman setan’ karena memberikan energi yang luar biasa. Raja Clement VIII pernah menjatuhkan fatwa haram meminum kopi bagi umatnya. Di sisi lain, kopi juga menjadi penunjang ritual keagamaan hingga berperan dalam terjadinya gerakan revolusi Perancis.

Di dataran Indonesia, kopi berkelindan erat dengan sejarah penjajahan. Masyarakat dipaksa Belanda untuk mengganti tanaman ladang dengan bibit kopi. Mereka yang menanam tidak pernah menyesap pahit dan masam-manisnya biji kopi. Belanda mengelabui masyarakat dengan mengatakan, buah kopi mengandung racun. Hanya pucuk daun muda kopi atau daun kering sekitar perkebunan yang kemudian diseduh layaknya teh.

Kopi tidak melulu soal cita rasa. Hitam pekatnya kopi juga mengisahkan beragam hikayat dan peristiwa. Kopi Sengkuang, menceritakan bagaimana para petani berkebun kopi di Bukitkaba pasca ditetapkan sebagai Taman Wisata Alam. Selama bertahun-tahun, Supriyanti dan masyarakat Sengkuang berjibaku melawan ketakutan. Demi menentang tuduhan perambah yang disematkan. Menyemai dan menuai buah kopi, baginya adalah cara mengarungi kehidupan. Mereka bertekad untuk terus melangkah bersama demi mendapatkan jaminan dan perlindungan berkebun kopi di Bukitkaba.

“Kadang rasa lelah dan putus asa itu melintas dalam pikiran. Tapi untunglah ada suami tercinta yang selalu memberikan kekuatan di samping saya, ” ujar Supriyanti tersenyum tersipu sembari menjawil suaminya.

Supriyanti bersama para petani sedang berupaya meniti langkah kolaborasi di kawasan konservasi TWA Bukitkaba. Mereka berharap, menuai buah kopi bukan lagi menjadi ancaman bagi konservasi. Sebaliknya, semerbak aroma kopi menyelimuti alam Bukitkaba yang tetap lestari.

*Muhamad Isomuddin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture. Click on the picture to hear an audio file of the word.
Anti-spam image