subscribe: Posts | Comments

Konferensi COP 21 Penting Demi Masa Depan Peradaban

0 comments
Konferensi COP 21 Penting Demi Masa Depan Peradaban

Pekanbaru, scale Up – Selama dua pekan, 30 November  hingga 11 Desember 2015, diselenggarakan agenda penting dunia di Le Bourget  Paris Perancis, terkait rencana kemanusiaan untuk memerangi perubahan iklim. Rencana aksi itu akan diterbitkan dalam kesepakatan tertulis yang disebut ‘Kesepakatan Paris untuk Perubahan Iklim’.  Agenda tersebut dinamakan Conference of Parties (COP) 21, atau dikenal dengan sebutan Konferensi Perubahan Iklim. Forum ini mengundang wakil resmi dari 195 negara dan 1 blok ekonomi (Uni Eropa) guna bertemu mendiskusikan rencana kemanusiaan untuk memerangi perubahan iklim. 

Delegasi Indonesia berjumlah 412 orang, mulai dari presiden, menteri dan pejabat setingkat menteri. Sejumlah lembaga negara seperti DPR dan BPK ikut hadir. Terdapat pula tim negosiasi melibatkan lintas kementerian dan lembaga. Kemudian ada pula wakil dari lembaga penelitian dan kampus. Selanjutnya delegasi dari kalangan lembaga swadaya masyarakat tercatat 60 orang termasuk wakil dari Solidaritas Perempuan, Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN), WWF, dan Greenpeace. Kalangan swasta ada 30 orang seperti KADIN, Asosiasi Kehutanan dan Sawit dan lainnya. 

COP21 merupakan suatu landasan  global penting terkait isu perubahan iklim yang diharapkan dapat menghasilkan perjanjian-perjanjian internasional demi tercapainya solusi realistis dari mitigasi dan adaptasi perubahan iklim bagi komunitas global, yang akan menentukan masa depan manusia dan menentukan keberlangsungan lingkungan serta ekosistem di dunia. 

Pada tahun 2007, Indonesia pernah menjadi tuan rumah konferensi perubahan iklim yang dinamakan COP13 di Bali. Konferensi kemudian menghasilkan Bali RoadMap untuk Perubahan Iklim.

D konferensi Paris kali ini, dunia memberikan kesempatan bagi Indonesia untuk kembali mengekspresikan komitmen, rencana-rencana aksi, dan dukungan untuk terus berperan sebagai negara yang memiliki bagian penting dalam memerangi perubahan iklim. 

Delegasi Indonesia di COP21 atau Conference of Parties (COP) ke-21, dipimpin langsung oleh Presiden Joko Widodo. dalam konferensi, di hadapan ratusan pemimpin negara dunia, Jokowi menyampaikan komitmen Indonesia untuk mengurangi emisi karbon 29 persen. Proposal Indonesia itu tercantum dalam naskah Intended Nationally Determined Contribution (INDC). Dalam pernyataan nasionalnya di COP21, Presiden menyatakan bahwa Indonesia sanggup menurunkan emisi sebesar 29 persen pada tahun 2030. Bahkan sampai 41 persen jika mendapatkan bantuan internasional. 

Presiden Indonesia, Jokowi Widodo saat menghadiri Konferensi Internasional UNFCCC COP21 di paris, (sumber : nasional.tempo.co)

Presiden Indonesia, Jokowi Widodo saat menghadiri Konferensi Internasional UNFCCC COP21 di paris, (sumber : nasional.tempo.co)

Menurut Jokowi, penurunan emisi dilakukan dengan mengambil beberapa langkah di berbagai bidang. Di bidang energi dengan pengalihan subsidi bahan bakar minyak ke sektor produktif. Juga, peningkatan penggunaan sumber energi terbarukan hingga 23 persen dari konsumsi energi nasional pada tahun 2025. Salah satunya ialah pengolahan sampah menjadi sumber energi. 

Dalam bidang tata kelola hutan dan sektor lahan, kata Jokowi, akan dilakukan penerapan one map policy, yakni menetapkan moratorium dan review izin pemanfaatan lahan gambut, pengelolaan lahan, dan hutan produksi lestari. 

Perihal persoalan lahan gambut, Indonesia misalnya mengambil langkah signifikan dalam skema Land Use, Land-Use Change and Forestry (LULUCF). Langkahnya konkretnya dengan moratorium lahan hutan primer dan melarang konversi lahan gambut dalam periode 2010 – 2016. Kebakaran lahan gambut secara masif membuat Presiden Jokowi secara tegas meminta tidak ada izin pembukaan lahan gambut (rappler.com, 30/11/2015). 

Penanganan perubahan iklim penting melibatkan masyarakat adat 

Pidato Presiden Joko Widodo di ajang KTT Perubahan Iklim di Le Bourget, Paris, Perancis pada 30 November 2015 sempat menyampaikan kalimat penting. Presiden menyebutkan bahwa penanganan perubahan iklim perlu melibatkan masyarakat adat. Penyampaian ini selaras dengan fakta bahwa selama ini kontribusi masyarakat dan masyarakat adat sudah signifikan dalam mengurangi emisi karbon.   

“Selama ini kontribusi masyarakat adat mengurangi emisi sudah banyak kita tahu. Hutan dan gambut yang terbakar selama ini paling sedikit di wilayah masyarakat adat. Jika ada, itu sudah milik konsesi perkebunan,” ujar Sekjen Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Abdon Nababan. Menurutnya, pidato Presiden yang disampaikan di hadapan ratusan kepala negara itu, cukup mengejutkan, karena teks pidato Presiden yang banyak beredar, tak ada kata melibatkan masyarakat, apalagi masyarakat adat.

Selain itu, pada kesempatan kunjungan ke Paviliun Indonesia di COP21, pada Senin, 30 November 2015, Presiden Joko Widodo menyatakan akan membentuk Badan Restorasi Gambut guna memperbaiki lahan gambut yang rusak lantaran kebakaran lahan dan hutan. Dikatakannya, rancangan aturannya sudah siap dan tinggal ditandatangani dan minggu depan sudah jadi. Badan tersebut akan memiliki beberapa fungsi, yakni mengatur penggunaan lahan gambut dan mengevaluasi izin-izin hak penggunaan atas hutan yang sudah turun (tempo.co, 1/12/2015). 

Beberapa hal penting di COP21 

Kesepakatan Paris bertujuan untuk menghentikan suhu pemanasan bumi agar tidak melebihi 2 derajat Celsius. Jika suhu bumi melebihi batas 2 derajat celcius, maka perubahan iklim akan sulit dibendung dan menimbulkan bencana skala besar. 

Selain itu negara di dunia perlu memasukkan komitmen mengenai berapa banyak emisi karbon dioksida yang bakal dipangkas. Diketahui bahwa Indonesia berkomitmen menurunkan emisi karbon sebesar 29 persen pada 2030. 

Keberhasilan dan komitmen yang dijaga pada Kesepakatan Paris, cukup menentukan masa depan iklim global. Jika Kesepakatan Paris tidak dijalankan secara baik dan serius, dapat diperkirakan dunia akan mengalami mimpi buruk pada 50 atau 100 tahun mendatang. 

Kebakaran hutan dan lahan di Indonesia, sebagaimana yang terjadi di hutan Amazon Brasil, akan menjadi semakin meningkat dan membahayakan, karena hanya bisa diatasi dengan turunnya hujan. 

Mencairnya lapisan es yang berakibat naiknya permukan air laut, memicu terjadinya pengungsian penduduk skala besar. Ilkim tidak stabil mendorong tumbuhnya angin topan dahsyat, sehingga mengancam eksistensi manusia, hewan, dan tumbuhan. Suhu bumi meningkat sehingga memicu gagal tanam dan panen banyak tumbuhan yang menjadi makanan pokok. Paling menakutkan apabila terjadi perang antar negara secara besar karena masing-masing saling memperebutkan sumber-sumber pangan, energi, dan air. 

Oleh karena itu, keberhasilan secara menyeluruh pada pertemuan COP21 menjadi penting demi generasi mendatang. Demi masa depan peradaban. (Scale Up)***

 

Sumber : www.rappler.com dan www.nasional.tempo.co

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture. Click on the picture to hear an audio file of the word.
Anti-spam image