subscribe: Posts | Comments

Konsultasi Publik Kajian NKT : Pemahaman dan Kebingungan

0 comments
Konsultasi Publik Kajian NKT : Pemahaman dan Kebingungan

Scale Up. Pekanbaru – Pada hari Kamis (06/04/2017), berkumpul berbagai perwakilan dari masyarakat, aparatur desa, lembaga swadaya masyarakat, konsultan, perusahaan, pemerintah kabupaten, dan provinsi serta kepolisian di ruang pertemuan kantor Kecamatan Teluk Meranti. Mereka dikumpulkan oleh FFI (Flora Fauna International) dalam forum konsultasi publik yang membahas hasil kajian NKT (Nilai Konservasi Tinggi) di wilayah RE (Restorasi Ekosistem) yang dikelola perusahaan; PT Gemilang Cipta Nusantara, PT Sinar Mutiara Nusantara, dan PT The Best One Timber.

Joseph Hutabarat, spesialis hutan dan keanekaragaman hayati FFI menjelaskan mengenai indikator yang dinilai dari enam (6) NKT. Ia memaparkan akan temuan dan pentingnya kajian NKT di wilayah RE (Restorasi Ekosistem). Namun dalam penyampaian materi kajian, peserta tidak mendapatkan dokumen dari hasil kajian tersebut. Hal ini membuat beberapa peserta memilih berada di luar ruangan karena merasa kebingungan akan materi yang akan dikonsultasikan.

“FFI mengadakan acara ini di kampung dan mengundang masyarakat untuk memberi masukan tapi memakai kata-kata yang tidak kami pahami,” ujar Nando salah satu peserta dari Kelurahan Teluk Meranti. Nando menganggap penjelasan yang dipaparkan tidak memberikan pemahaman apapun kepadanya.

Beberapa peserta menyempatkan berfoto bersama dalam acara Konsultasi Publik Kajian NKT oleh FFI di Teluk Maranti pada 6 April 2017 (Foto : Okmi)

Beberapa peserta menyempatkan berfoto bersama dalam acara Konsultasi Publik Kajian NKT oleh FFI di Teluk Maranti pada 6 April 2017 (Foto : Okmi)

Pak Mali seorang warga dari Desa Teluk Binjai juga menambahkan, “sudah banyak lembaga, organisasi bahkan membawa bule-bule (sebutan untuk orang asing) masuk ke kampung kami, bicara tentang karbon, efek rumah kaca, asap, Singapura, dan lain-lain. Namun keadaan kami tetap tidak berubah. Jadi apa sebenarnya manfaatnya terhadap kami?”

Peserta dalam forum konsultasi melontarkan beberapa pertanyaan dan pendapatnya kepada FFI. “Untuk mencapai tujuan yang direncanakan dalam sebuah konsultasi publik, peserta harus terlebih dahulu memahami konteks yang akan didiskusikan,” tandas Raflis selaku Direktur Yayasan Hutan Riau di tengah-tengah sesi diskusi.

Dinamika forum konsultasi publik ini lebih banyak mempertanyakan pada tujuan dan asas manfaatnya kepada masyarakat dan informasi mengenai NKT tidak tersampaikan dengan baik kepada masyarakat. Di samping itu, kehadiran peran pihak kepolisian dalam sebuah konsultasi publik menjadi sebuah pertanyaan.

Nando memilih meniggalkan tempat di tengah forum konsultasi publik yang sedang berlangsung. Masyarakat merasa kebingungan akan memberi masukan terhadap kajian NKT itu sendiri. Karena Pembahasan NKT dianggap tidak terkait dengan ruang lingkup kebutuhan masyarakat sekitar. (wd-su)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture. Click on the picture to hear an audio file of the word.
Anti-spam image