subscribe: Posts | Comments

Masyarakat Bakal Kehilangan Gambut

0 comments
Masyarakat Bakal Kehilangan Gambut

Scale Up Gelar Pertemuan Nasional.

Tribun, Pekanbaru – Lembaga non-pemerintah, Scale Up, menyelenggarakan Pertemuan Nasional Masyarakat Gambut diikuti peserta dari Provinsi Aceh, Sumatera Selatan, Riau, Jambi, Kalimantan Tengah, Papua, dan Serawak, Malaysia. Scale Up bersama lembaga independen lainnya menginisiasi event nasional ini, Selasa (10/12) pekan lalu, di ruang pertemuan Hotel Pangrango II Bogor, Jawa Barat. Even nasional tersebut bertujuan agar masyarakat mampu menyikapi perubahan iklim dan bagaimana mereka mengelola pemanfaatan gambut secara arif dan bijaksana.

“Pertemuan mulai 10-13 Desember 2013 lalu bertujuan agar masyarakat mampu memberikan kepada pemerintah bahan rumusan sebagai masukan dan pertimbangan dalam membuat kebijakan,” jelas Direktur Eksekutif Scale Up, Harry Oktavian, Rabu (18/12). Ia menjelaskan, output diharapkan, adanya pembelajaran berharga dari berbagai pengalaman masyarakat di daerah gambut dalam pengelolaan dan advokasi terhadap hak atas sumber daya alam.

Foto terkait :

Selain itu tuturnya, adanya strategi efektif dalam pengorganisasian masyarakat di daerah gambut menyikapi isu perubahan iklim dan hak kelola wilayah gambut.

“Berikutnya, terdistribusinya informasi terkait isu-isu seputar hak masyarakat dan kebijakan pengelolaan wilayah gambut melalui diskusi bersama parapihak, serta adanya dokumen rencana kegiatan bersama masyarakat terkait isu perubahan iklim dan pengelolaan wilayah gambut,” jelas Harry.

Selain berbagi pengalaman tentang pemanfaatan gambut dari berbagai wilayah, pertemuan ini juga melibatkan akademisi yang melakukan kajian atau penelitian gambut terkait kelestarian dan ekonomi masyarakat di sekitar wilayah tersebut.

Oka Karyanto dari Akademisi UGM mengatakan, distribusi gambut di seluruh Indonesia berdasarkan data Bappenas 2009, di pulau Sumatera terdapat 7.197.850 ha, Kalimantan 5.765.961 ha, dan Papua 8.019.922 ha. Total keseluruhan distribusi gambut di seluruh Indonesia adalah 21.073.733 ha.

Dari 21 juta hektar lahan gambut itu, jelasnya, merupakan karbon tersimpan atau lebih dari separuh total karbon yang tersimpan pada lahan gambut tropika se-dunia.

“Kepunahan suatu kubah gambut dapat terjadi dan dibutuhkan setidak-tidaknya 2000 tahun untuk membentuk lahan gambut setebal 4 meter. Jika didrainase, lahan gambut setebal 4 meter itu dapat habis hanya dalam waktu sekitar 100 tahun,” jelas Oka.

Dipa Satriadi Rais dari Wetlands International – Indonesia mengungkapkan, ancaman utama terhadap lahan gambut Indonesia adalah deforestasi, drainase, dan kebakaran lahan.

“Subsidence (amblasan) yang terus menerus dapat mengakibatkan punahnya lahan gambut. Bila amblasan gambut tetap berlanjut, maka setidaknya ada 10 juta hektar daratan Indonesia yang akan hilang dalam 100-300 tahun mendatang,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, saat ini menjadi isu hangat, gambut sedang mendapat tekanan dari perkebunan kelapa sawit berskala besar, Hutan Tanaman Industri (HTI), dan privatisasi hutan melalui skema REDD.

Ekpansi HTI dan sawit ke lahan gambut terbukti sering memicu konflik antara masyarakat dengan perusahaan. Selain itu, konversi lahan secara nyata memicu terbentuknya subsidence atau penurunan permukaan gambut. Dampak parah akan terjadi jika subsidence tersebut sudah menyebabkan intrusi air laut yang masuk ke permukiman dan wilayah garapan masyarakat, dan dipastikan akan mengganggu sumber-sumber ekonomi masyarakat. (rzi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture. Click on the picture to hear an audio file of the word.
Anti-spam image