Home

Senin, 19 November 2012
DKN Tengahi Konflik Warga-PT PSPI
Makan Siang di Mushalla Darurat

Salo, Tribun Pekanbaru - Sejumlah anak kemenakan Datuk Rajo Melayu yang ikut mendampingi utusan DKN dalam kunjungan lokasi, Jumat (16/11) lalu, beristirahat di sebuah musholla. Tak ada tempat lain bisa dijadikan berteduh di sekitar lahan konflik terhampar luas tersebut.

Jika dilihat sekilas, pondok terbuat dari kayu dan beratapkan seng itu seperti tidak layak disebut musholla.

Bisa dibilang, keadaannya sangat memprihatinkan. "Hanya inilah yang tinggal dari pondok-pondok pernah didirikan masyarakat," ujar Saripudin Datuk Rajo Melayu didampingi Sekretaris Kerapatan Adat, Madun.

Madun menjelaskan, sebelumnya ada 27 pondok yang didiami masyarakat sebagai tempat berlindung dan bertahan sejak konflik bergulir. Namun, pndok-pondok itu dibongkar petugas keamanan PT PSPI, meski mereka berkeras mendirikannya.

Ia menjelaskan, pembongkaran terjadi tiga kali terhitung sejak Maret 2012 lalu. Pembongkaran pertama dan kedua, tanpa surat pemberitahuan. Baru ada surat pada waktu pembongkaran ketiga," tuturnya.

Warga kerap mendapat ancaman dari perusahaan selama mereka mendiami pondok tersebut. Madun menyebutkan, aksi pembongkaran itu telah diadukan ke Komnas HAM. Alhasil, Komnas HAM turun ke lokasi pada 5 November 2012 lalu.
Selain mengadu ke Komnas HAM, perjuangan perebutan lahan itu didampingi Scale Up.

"Kami mendesak agar lahan di-enclave dari konsesi dan diserahkan sepenuhnya kepada Anak Kemenakan," tegasnya. (ndo)