Home

Jumat, 29 Juni 2012
Scale Up Bentangkan Hasil Penelitian Konflik Agraria di LAM Riau

Scale Up, Pekanbaru - Sehubungan dengan upaya Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR) untuk lebih terlibat dalam upaya-upaya resolusi konflik agraria di Propinsi Riau, terutama yang berkaitan dengan hak-hak masyarakat adat, lembaga ini mengundang Scale Up untuk membentangkan hasil survei bertema Peta Konflik Agraria di Propinsi Riau dalam sebuah diskusi internal pada jumat, 29 Juni 2012 di Balai Adat Melayu Riau, Jalan Diponegoro no.39 Pekanbaru.

Diskusi yang berlangsung mulai pukul 14.30 - 16.30 wib itu, diawali dengan sebuah kata sambutan dari Ketua Umum Dewan Pengurus Harian (DPH) LAM Riau, Al Azhar, dan dilanjutkan paparan laporan data oleh Direktur Eksekutif Scale Up, Ahmad Zazali, yang berjudul Fakta, Inisiatif, dan Hambatan dalam Penyelesaian Konflik Sumberdaya Alam Secara Adil dan Damai. Paparan yang memperlihatkan fakta-fakta konflik yang terjadi di Riau pada tahun 2008 - 2011 ini, dihadiri banyak kalangan seperti dari tokoh-tokoh penting Lembaga Adat Melayu sendiri, tokoh masyarakat, pakar hukum, lembaga-lembaga swadaya, dan kalangan pers.

Dalam penjelasannya, Ahmad Zazali mengungkapkan bahwa eskalasi konflik sumberdaya alam atas hutan, tanah, perkebunan, dan pertambangan menunjukkan peningkatan yang signifikan dari tahun ke tahun, bahkan konflik-konflik lama yang belum selesai seringkali berujung pada saling menyerang antara masyarakat dengan perusahaan. "Pengerahan karyawan dan tenaga bayaran seperti pam-swakarsa, serta kepolisian kerap terjadi atas permintaan dari perusahaan dengan alasan mengamankan aset," terang Zazali.

Menurutnya, kondisi-kondisi seperti ini berakibat telah menciptakan situasi yang tidak kondusif dan pihak yang berkonflik sama-sama dirugikan. Sudah saatnya inisiatif-inisiatif penyelesaian baru dikembangkan dan merubah pendekatan legalistic formal ke arah pendekatan yang mampu menciptakan keadilan dan kedamaian. "Bangsa Indonesia sebenarnya memiliki tradisi budaya musyawarah mufakat yang potensial untuk dikembangkan di ranah penyelesaian konflik sumberdaya alam. Pendekatan ini sama halnya dengan pendekatan ADR (Alternative Dispute Resolution), yaitu pendekatan penyelesaian konflik melalui negosiasi, mediasi, dan konsiliasi," jelasnya.

Dalam diskusi itu, banyak masukan dan pendapat yang dilontarkan oleh hadirin. salah seorang tokoh LAMR, Tengku Lukman Jaafar mengemukakan bahwa kelemahan masyarakat perlu juga diungkapkan, bukan hanya kelemahan perusahaan saja. Menurutnya, objektifitas dalam menyelesaikan kasus sengketa seperti objek sengketa, kepemilikan, luas lahan, serta bagaimana sesungguhnya kedudukan suatu tanah ulayat, adalah faktor penting.

Dari banyaknya masukan dan pendapat cukup beragam, muncul pengharapan terhadap LAM Riau, sebagai Lembaga Adat Melayu yang memiliki marwah di bumi lancang kuning, agar dapat lebih berperan dan terlibat lebih jauh dalam menyelesaikan masalah-masalah sengketa agraria di Propinsi Riau yang semakin hari semakin tinggi eskalasinya.

Pada penutup, Ketua Umum Majelis Kerapatan Adat (MKA) LAM Riau, H.Tenas Effendy menyampaikan sebuah perumpamaan sehubungan permasalahan konflik yang mendera Riau saat ini. "Kita selalu berusaha memadamkan kebakaran, tetapi kuncinya jarang kita pegang, artinya kita jarang menyelusuri akar dari penyebab kebakaran tersebut," ungkapnya. Sementara itu tambahnya, kunci di undang-undang adalah, harus ada yang berjuang dengan keras di situ.

Di Riau terdapat sejumlah suku seperti suku Bonai, suku Talang Mamak, suku Sakai, dan suku lainnya, Eksistensi tanah ulayat ada pada suku, tanah ulayat adalah milik suku-suku, dan mereka memiliki hukum-hukum adat. "Perselisihan yang terjadi antar anak kemenakan, maka harus diselesaikan secara musyawarah/mufakat berlandaskan pada hukum-hukum adat," ujarnya.

"Dalam menghadapi berbagai terpaan masalah, maka harkat, martabat, dan marwah adalah yang paling utama. Alur dan patut harus diperhatikan dalam penyelesaian konflik, sesuai hukum-hukum adat yang berlaku, dan berazaskan pada kaidah-kaidah melayu," tutupnya. [mom]