Home

Jum’at, 5 April 2013
Didampingi Komnas PA
Korban Bentrok Maut PTAndika Menangis Melihat Kondisi Rumah

Sejumlah korban konflik maut PT Andika di Jurong 18, Bonaidarussalam tak kuasa menahan tangis saat pertama kali pulang dan melihat kondisi rumah mereka yang poran-poranda. Mereka pulang didampingi Komnas PA.

Riauterkini-PASIRPANGARAIAN- Susi Susanti, gadis berusia 15 tahun di Jurong 18 Desa Bonai Kecamatan Bonaidarussalam Kabupaten Rokan Hulu menangis saat sejumlah barang di rumahnya hilang dan terlihat "acak-acakan".

Tangisan siswi Kelas IX SMP Negeri 5 Bonaidarussalam ini disaksikan Ketua Umum Komisi Nasional (Komnas) Perlindungan Anak, Arist Merdeka Siregar, serta Kepala Polres Rohul, AKBP Yudi Kurniawan, Jumat sore (5/4/13), saat mendampingi sebagian warga Jurong 18 untuk melihat rumahnya pasca ditinggalkan dua bulan lalu.

Dua bulan lalu, tepatnya Jumat malam (8/2/13) sampai Sabtu dinihari (9/2/13), merupakan insiden mengerikan di Jurong 18 Desa Bonai yakni antara sekelompok warga setempat dengan PAM Swakarsa PT Andika Pratama Sawit Lestari (APSL) biasa disebut PT Andika ditengarai konflik lahan.

Bermoduskan ingin menguasai lahan kelapa sawit warga Jurong 18 yang telah produksi, Susi Susanti, anak pasangan Ramlan Siregar dan Ampi, yang pertengahan April nanti akan mengikuti Ujian Nasional 2013, terancam tidak bisa mengikuti ujian.

Saat melihat rumahnya, Susi Susanti panik. Selain seisi kios spare part sepeda motor dan peralatan pompa air usaha ayahnya ludes dijarah, seisi lemari mulai pakaian sampai celana dalam seluruh anggota keluarganya turut dijarah pencuri yang diduga merupakan karyawan PT APSL dari Flores pasca rumah ditinggalkan penghuninya.

Bukan itu saja, pompa air, televisi, dan generator setting (genset) juga raib. Seisi kamar dan buku-buku sekolah Susi dan adiknya juga berserakan di lantai dan kasur kamarnya. Dia sempat panik saat melihat laci tempat ia menyimpan buku raport sekolahnya turut diacak-acak.

Dia sedikit senang saat barang yang dicari masih ada dalam laci, tapi yang namanya Susi, gadis belia tersebut, masih belum terima dengan ulah oknum yang belum diketahui siapa pelakunya. "Ijazah sekolah selamat, tapi harta kami habis," terang singkat Susi kepada riauterkinicom.

Kesedihan turut dirasakan Nur Rambe. Wanita berusia 34 tahun tersebut mengaku, pasca rumah ditinggalkan, seluruh alat dapurnya juga turut dijarah. Akibat pompa air dicuri, persediaan air bersih warga Jurong 18 juga semakin sulit.

Walau didampingi Komnas Perlindungan Anak, Supina, nenek berusia 60 tahun ini malah sama sekali tidak ingin melihat isi rumahnya. Ia takut melihat karena akan membuatnya sedih, apalagi lahan 3 pancang atau 6 hektar yang dibelinya 2004 silam kini telah produksi.

Disebabkan ada isu aksi balas dendam dari PAM Swakarsa PT APSL asal Flores, Supina mengaku seluruh warga Jurong 18 tinggalkan rumahnya. Melihat kampung kosong, ia juga ikut mengungsi. "Saya mengungsi ke Bagan Batu Rokan Hilir kemarin," ungkap nenek Supina.

Saat insiden bentrok berdarah, tidak satu pun kaum perempuan dan anak-anak berani keluar rumah. Pasca tewasnya seorang PAM Swakarsa PT APSL bernama Edit (26) dan dua rekannya yakni Yofi (20) dan Alis (36) mengalami luka-luka, penduduk Jurong 18 mengungsi hanya membawa baju di badan.

Ketika insiden, warga Jurong 18 mengaku bingung melapor kemana, sebab itu mereka lebih memilih mengungsi ke rumah saudaranya masih di wilayah Riau, dan sebagian ada yang pulang ke daerah asalnya di Provinsi Sumatera Utara.

Ketum Komnas PA, Arist Merdeka Sirait, mengaku sudah minta Kapolres Rohul AKBP Yudi Kurniawan menjamin keamanan warga Jurong 18. Dia berharap orang tua kembali ke kampungnya dan membawa anaknya agar bisa sekolah seperti biasa dan membangun keluarga baru.

"Tugas kami belum selesai. Tugas baru selesai jika seluruh warga telah kembali ke pemukiman. Ini akan terus kita pantau," tegasnya.

Arist mengaku Jumat tadi baru sebatas mengantar sebagian warga Jurong 18 didominasi kaum ibu-ibu dan anak-anak sekedar melihat kondisi rumahnya. Dia minta warga agar kembali ke kampung secepatnya dan hidup seperti biasa.

"Sebagian warga ini sementara kita inapakn di Kantor Desa Bonai, sebab tidak ada listrik dan air disana. Mesin dan pompa airnya pun dicuri," ungkap Arist lagi.

Sebagai jaminan keamanan bagi sekitar 52 kepala keluarga serta nasib 102 anak usia sekolah, Kapolres Rohul AKBP Yudi Kurniawan janji akan turunkan 2 regu atau 30 personil Polisi ke Jurong 18.

Dua regu Polisi tersebut bertugas untuk menjaga situasi tetap kondusif. "Mereka (personil.red) baru ditarik jika situasi sudah kondusif," jelas Kapolres Yudi menjawab riauterkinicom.***(zal)

Sumber :
http://www.riauterkini.com/hukum.php?arr=58351