Home

Jumat, 20 Desember 2013
Bentrok Rebutan Lahan Warga Rohul Vs PT MAN
Seorang Preman Tewas dan 3 Luka

Ratusan warga Mahato Sakti, Rohul terlibat bentrok dengan preman bayaran PT MAN. Seorang preman tewas dan tiga luka akibat perebutan lahan yang sudah berlangsung menahun tersebut.

Riauterkini-TAMBUSAI UTARA
- Seorang oknum preman diduga sewaan PT Merangkai Artha Nusantara (MAN) di Kabupaten Rokan Hulu bernama Lukas Barus (35) dilaporkan tewas, sedangkan tiga oknum preman lain mengalami luka-luka akibat terlibat bentrok fisik dengan masyarakat Desa Mahato Sakti, Kecamatan Tambusai Utara, Jumat (20/12/2013) sekitar pukul 11.00 WIB.

Bentrokan melibatkan masyarakat sekampung dengan sekitar 25 oknum preman diduga sewaan PT MAN terjadi di lokasi perusahaan. Selain menyebabkan korban tewas dan luka-luka, sekitar 6 unit sepeda motor milik oknum preman juga dibakar masyarakat, termasuk 1 unit truk colt diesel dan 1 unit barak perusahaan ikut hangus terbakar. Sementara, dari kubu masyarakat hanya beberapa orang terluka akibat kena lemparan batu.

Menurut berbagai sumber dirangkum riauterkinicom, bentrokan berdarah itu pecah menyusul tak kunjung selesainya sengketa agraria antara masyarakat dengan PT MAN. Pemicunya, perusahaan dituding sudah menyerobot lahan masyarakat Mahato Sakti sekitar 300 hektar.

"Masalahnya sudah menjadi masalah dilematis. Tanah kami sudah dikuasai PT MAN, namun saat kami meminta lahan dikembalikan, mereka malah menyewa oknum preman dari luar daerah (Sumatera Utara-red)," kata salah seorang warga Mahato Sakti tidak bersedia disebutkan namanya di ujung telepon, Jumat sore.

Sumber dari masyarakat ini mengungkapkan, mereka nekad mengejar oknum preman bersenjata tajam sampai areal PT MAN karena sudah habis kesabarannya. Puluhan oknum preman yang diduga diberdayakan perusahaan itu awalnya menakuti-nakuti masyarakat di kampung.

"Tindakan perusahaan dengan menurunkan oknum preman ke lokasi konflik inilah penyababnya. Mereka juga sering masuk wilayah desa kami," ungkap sumber.

Pria ini mengakui, tindakan anarkhis itu pecah karena masyarakat Mahato Sakti juga membela harkat dan martabatnya sebagai rakyat kecil yang selama ini terjajah oleh perusahaan. "Sebelum bentrok ini pecah, kami sudah minta pihak polisi menangkap para oknum-oknum preman itu. Bahkan Pak Kades sudah beberapa kali memintanya, tapi tetap Pak Polisi tidak mengindahkan," ujarnya.

"Polisi jangan menyalahkan masyarakat. Sebab beberapa kali kami sudah mengirimkan tembusan melaporkan apa yang kami alami, namun tidak ada respon. Dan baru kejadian hari ini, polisi baru mau turun," tambahnya.

Pria paruh baya ini mengatakan, atas adanya korban tewas dari pihak PT MAN, semua warga siap bertanggung jawab. Dan jika ada warga yang ditangkap, masyarakat sekampung juga siap ditahan dan menyerahkan diri ke kepolisian, sebab tindakan itu dilakukan bersama-sama.

"Kami tidak takut lagi dengan senjata, hanya inilah (lahan 300 ha-red) harapan kami untuk masa depan anak-anak kami nanti. Dan kejadian ini karena sudah habis kesabaran kami," tegasnya.

"Serahkan semua hak kami dan tanah yang akan kami ambil. Kami menegakan harkat dan martabat, bukan melawan penegak hukum," tambahnya lagi.

Menurut pria ini, selama ini, kepolisian di Kabupaten Rohul belum menjalankan hukum kepada rakyat kecil, sebab itu mereka juga mengharapkan agar pihak kepolisian juga maklum atas kejadian "Jumat Berdarah" di areal sengketa di PT MAN.

Sampai saat ini belum ada keterangan resmi dari kepolisian. Kapolres Rohul AKBP Onny Trimurti belum bisa diminta keterangannya.***(zal)

Sumber :

http://www.riauterkini.com/hukum.php?arr=68052