Home

Rabu, 27 Maret 2013
KONFLIK AGRARIA: Yang Tersingkir Dari Jambi-Ketegangan di Mekar Jaya (Bagian 2)
www.bisnis.com - oleh : Anugerah Perkasa

BISNIS.COM, JAKARTA - EDI PURWANTO berpamitan dengan ayahnya sebelum berangkat ke ladang pada suatu pagi akhir Juni tahun lalu. Saat itu waktu sudah menunjukkan 07. 30 WIB. Edi adalah pemuda berusia 21 tahun asal Dusun Mekar Jaya. Dia ditemani sepupunya, Ahmad Arifin, untuk memasang patok batas karena diminta kepala dusun.

Pemasangan batas akan memudahkan tugas tim pemetaan yang mulai bertugas akhir bulan itu. Arifin menyungkil tanah dengan penusuk buah sawit, Edi yang mengangkutnya. Tiba-tiba saja sekitar pukul 09.00, ada satu mobil medekat.

Enam orang mulai turun dan mendatangi kedua pemuda tersebut. Tongkat penusuk buah sawit—disebut dodos—yang dipegang Arifin, diminta pula. Panjang dodos bermacam-macam.

Di antaranya 110 sentimeter, dengan pisau menyerupai trapesium terbalik, di bagian kepala. Baik Edi maupun Arifin mengenali enam orang itu sebagai preman suruhan perusahaan, PT Agronusa Alam Sejahtera (AAS). Orang yang meminta dodos berbadan tegap dan berkulit sawo matang.

“Bikin apa?” katanya.

“Bikin batas, Pak,” kata Edi.

“Nggak ada batas-batas… mati yang ada!”

Bruuk... Sesaat pandangan Edi mulai gelap. Dodos dipukulkan dengan cepat ke kepalanya. Darah mulai mengucur. Kulit kepalanya ada yang robek. Arifin pun tak lepas dari serangan preman, namun dia berhasil mengelak. Keduanya lari menjauh dengan menaiki sepeda motor. Edi menutupi darah dengan tangannya. Di perjalanan, mereka akhirnya bertemu Nur Laila.

“Kenapa kamu Edi?” kata perempuan itu.

“Jatuh dari motor,” kata Edi berbohong.

“Gak mungkin jatuh. Kamu habis bertengkar ya?”

“Iya. Habis didodos preman PT.”

Nur Laila membersihkan darah yang membasahi wajah Edi dengan kerudungnya. Baik Edi maupun Arifin langsung kembali ke rumah siang itu. Di Puskesmas Mandiangin, Edi mendapatkan 21 jahitan di kepala. Dia juga divisum. Atas penyerangan tersebut, keluarganya melaporkan secara resmi ke Polsek Mandiangin, hari itu juga. Kejadian tersebut kini lebih 7 bulan yang lalu.

Saya menemui Edi pada awal Februari lalu. Dia didampingi ayahnya, Sumito, ketika diwawancarai di rumah Kepala Dusun Mekar Jaya, Suprayitno.Saya melihat jahitan lukanya telah mengering. Ada garis yang membekas di kulit kepalanya.

Namun kegusarannya sama sekali tak hilang. Edi ingin polisi segera menahan siapa penyerang dirinya pagi itu. Tetapi, polisi belum juga mengungkap siapa pelaku dalam peristiwa tersebut hingga hari ini. Edi sendiri sudah dimintai keterangan hingga tiga kali.

Laporan inventarisasi dan identifikasi lahan Dinas Kehutanan Kabupaten Sarolangun pada Juli 2012 menemukan sebagian area Dusun Mekar Jaya tumpang-tindih dengan konsesi PT AAS.

Pengukuran sebelumnya menunjukkan lahan dusun yang digarap warga mencapai 3.620,45 hektar. Namun di dalamnya, terdapat pembukaan area oleh perusahaan sekitar 250 hektar yang ditanami akasia, bahan utama untuk produksi kertas.

Secara umum, para petani di Dusun Mekar Jaya menanam padi, karet, kacang tanah hingga kelapa sawit. Jalan di dusun itu juga kebanyakan jalan setapak. Naik turun. Pohon karet di kanan-kiri. Ilalang. Pohon kelapa sawit. Jalan juga bergelombang serta becek. Pengemudi sepeda motor harus ekstra hati-hati di siang hari karena pengendara lain datang dari arah berlawanan. Mereka juga harus berbagi jalur sempit.

Dusun Mekar Jaya berdiri pada 2007 sebagai hasil perluasan dari Desa Sei. Butang. Pada awalnya masyarakat datang ke sana akibat lahan milik PT Asialog—perusahaan kayu yang mendapatkan izin hak pengusahaan hutan sejak 1971—menelantarkan lahannya akibat krisis moneter 1998. Kebanyakan mereka berasal dari etnis Batak, Jawa, Melayu dan Sunda dan berpencar untuk bertahan hidup. Mereka menginginkan kehidupan yang lebih baik.

Sepanjang 2011—2012, perusahaan terus beroperasi dengan menanami bibit akasia di malam hari. Warga pun terus melawan. Pada September 2011, puluhan warga berkumpul untuk menyetop operasi buldoser yang masuk dusun.

Buruknya, PT AAS selalu memakai cara kekerasan, dengan menyuruh preman, untuk menekan warga. Akhirnya tanaman karet dan padi petani digusur atau ditebas. Ada pula yang disemprot racun.

Konflik lahan itu membuat warga dilanda kekhawatiran sehingga kesulitan bercocok tanam. Saya sendiri melihat tanaman akasia tumbuh di sela-sela ladang milik warga di suatu sore di Mekar Jaya. Penanamannya dibuat berjajar. Ada pohon karet, ada pula akasia.

“Malam hari mereka membuldoser, besok pagi lahan kami sudah kering,” kata Masnun, 42 tahun. “ Ada juga yang mengancam, mana surat tanah warga?”

“Perusahaan masuk, ekonomi kami mandek,” kata Abdul Manan, 40 tahun. “Tanah kami dikuasai dan digusur.”

“Perusahaan tetap beroperasi di atas lahan yang diverifikasi,” kata Suprayitno, 50 tahun. “Mereka juga menanam akasia di sela-sela tanaman milik warga.”

Pasangan Duri—Suharti juga sering melihat karyawan PT AAS yang bertugas di area dekat rumah mereka. Area tanaman akasia itu salah satunya berada di kawasan yang dikenal dengan komplek Bengkulu. Suharti membuka warung kelontong kecil—salah satunya menjual sayuran—di depan rumah. Sedangkan Duri, berkeliling menjual hasil kebun mereka ke pasar.

Para karyawan perusahaan, kata Duri, sering belanja sayuran di warung. Mereka biasanya datang sekitar 2—3 kali seminggu untuk menyemprot lahan. Ini kelak digunakan sebagai area penanaman bibit akasia. Hal inilah yang membuat Kamal Damanik gusar.

Saya menemui Kamal dan dua tetangganya, Antoni Gultom serta Hotman Lubis. Ketiganya—dengan aksen Batak yang kental— menetap di kawasan Kapas, Dusun Mekar Jaya. Mereka menceritakan tentang pengawas PT AAS yang bersikukuh untuk menanam akasia.

Kamal menyaksikan hingga kini perusahaan masih beroperasi—walaupun ada surat hutan tanaman rakyat dari Kementerian Kehutanan—di atas lahan sengketa. “Ada preman yang menghalau,” kata Kamal. “Kalau warga ingin menanam harus lapor ke pos perusahaan dulu.”

Antoni lebih keras lagi. Dia memaparkan bandelnya perusahaan bisa mengakibatkan emosi warga segera meledak. Selama ini, katanya, para pendamping dari STN maupun PRD selalu mengatakan kepada para petani untuk tak memakai kekerasan.

Tetapi, lama-lama dirinya sudah tak bisa tahan kendali lagi. Ketiganya ingin pemerintah dapat menyetop operasi perusahaan. Ini untuk mencegah aksi yang lebih buruk lagi di masa mendatang. “Jangan salahkan masyarakat, kalau sudah lepas emosi,” ujar Antoni.

Ketika di Jakarta, saya telah mengirimkan daftar pertanyaan melalui surat elektronik ke manajemen PT AAS untuk pelbagai persoalan di Mekar Jaya. Surat itu saya kirimkan Desember tahun lalu.

Bahkan salah satu direkturnya, Idaman Zega—melalui layanan pesan pendek—mengajak saya bertemu, yang akhirnya selalu dibatalkan. Sepuluh pertanyaan yang dikirimkan memang tak pernah terjawab. Dari masalah kekerasan sampai upaya perusahaan meminimalisir konflik. Direktur PT Adrindo Agro Lestari—pemilik saham PT AAS— Randi Angtono merespon dengan menyatakan kesediaannya menjawab, namun tak pernah dilakukannya.

Saya akhirnya mengunjungi kantor PT AAS, yang terletak di Pluit Raya, Jakarta Utara, pekan kedua Februari. Kantor perusahaan itu berada di Wisma ADR lantai dasar. Grup bisnis ADR sedikitnya bergerak di empat sektor usaha, yakni otomotif, agribisnis, properti dan investasi.

Sayangnya, saya tak bisa menemui manajemen. Idaman mengatakan dirinya berada di Palembang untuk urusan kelapa sawit. Saya hanya bisa berjumpa seorang gadis manis di balik meja resepsionis.

Tiba-tiba, ada kabar mengejutkan di Mekar Jaya tiga hari kemudian. Ratusan warga Dusun Mekar Jaya—yang sedang rapat tentang tindak lanjut surat Kementerian Kehutanan—menyandera 12 orang dari PT AAS.

Ini dilakukan ketika suruhan perusahaan itu memasuki ladang untuk beroperasi pada 10 Februari lalu. Lokasi yang dimaksud adalah lokasi yang ditempuh sekitar 15 menit dari tempat mereka berkumpul sore itu.

Warga yang marah akhirnya membekuk 12 orang dari perusahaan. Ada belati yang diamankan. Ada juga tiga pucuk senjata rakitan. Para tersandera adalah tiga tenaga keamanan, tiga penebas tanaman, satu pengawas serta sisanya, preman bayaran. Aktivitas pihak perusahaan di ladang warga itulahyang bikin para petani bereaksi keras.

Pemerintah kabupaten akhirnya turun tangan. Kepolisian juga membantu negosiasi. Setelah 24 jam, akhirnya para suruhan perusahaan itu dilepaskan. Ini tentunya dilakukan setelah mereka menandatangani perjanjian bermaterai: tak ada dendam serta tak kembali beroperasi di area warga.

Tetapi, seperti kata Kamal Damanik, janji perusahaan selama ini tak bisa dipegang. Warga pun kini mulai melakukan patroli. Lahan-lahan mereka dijaga lebih ketat.Penyanderaan itu, bisa saja, adalah satu letupan awal di Dusun Mekar Jaya.

Tetapi, saya kira, kejadian itu justru menunjukkan kekhawatiran Antoni Gultom, semakin lama semakin nyata.

 

Sumber :
http://www.bisnis.com/konflik-agraria-yang-tersingkir-dari-jambi-ketegangan-di-mekar-jaya-bagian-2