Home

Rabu, 26 Maret 2014
Konflik Pulau Padang Kembali Terjadi

MERBAU, ripesnews.com - Sedikitnya ratusan masyarakat Bagan Melibur yang tergabung bersama masyarakat Desa Mayangsari Kecamatan Merbau Kabupaten Kepulauan Meranti, turun ke batas desa yang berbataskan dengan konsensi area Andalan Pulp and Paper (RAPP) Pulau Padang pada Rabu (26/3) kemarin.

Kedatangan ratusan masyarakat Bagan Melibur yang tergabung bersama masyarakat Mayangsari yang beroperasi di wilah pulau padang itu, menghentikan 2 (dua) unit alat berat exscapator yang beroperasi masuk dalam wilayah batas Desa Bagan Melibur dimana Desa tersebut bukan merupakan wilayah konsesinya.

“Ini dipicu karena sudah dua minggu terakhir, alat berat perusahaan yang membuat kanal-kanal dihutan gambut tersebut masuk ke wilayah yang diduga administarsi Desa Bagan Melibur Kecamatan Merbau.

Saat ini sedang terjadi pertemuan dilokasi kejadian tersebut antara masyarakat, pemerintah desa, Polsek Merbau, bersama perwakilan perusahaan RAPP, sebut sekjen jaringan masyarakat gambut Riau (JMGR) Isnadi Isman, S.Pd memlaui pesan rilisnya kepada Riau Pesisir Rabu (26/3) kemarin sore.

Dalam pertemuan itu, masyarakat meminta agar operasional RAPP yang masuk kewilayah desa bagan melibur dihentikan, dan kanal yang sudah digali oleh perusahaan tersebut minta untuk ditimbun kembali, “namun pihak perusahaan bersikukuh tidak mahu”.
Menurut Isnadi, sebenarnya hal ini tidak boleh terjadi, karena masaalah RAPP di Pulau Padang inikan masaallah yang berlarut-larut, dan jelas sesuai SK.180/Menhut-II/2013 yang merupakan addendum dari SK.327/Menhut-II/2009.
Desa Bagan Melibur ini sudah dikeluarkan dari areal konsensi RAPP. Menurtnya, “inikan merupakan pelanggaran oleh oknum perusahaan, seharusnya pemerintah berwenang memastikan hal-hal seperti ini agar tidak terjadi, dan ini juga kerena tidak jelasnya tapal batas antara konsensi dan batas desa”, jelas peria yang akrab disapa sehari-hari Didi itu.

“Isnadi yang bersosok pemakai kaca mata itu berpendapat, seharusnya pemerintah dan perusahaan harus memastikan terlebih dahulu bahwa ini”clean dan clear” dari semua aspek baru melakukan operasional di lahan gambut.

Kharhutla dan bencana asap yang terjadi sekarang ini sebenarnya sudah cukup untuk dijadikan contoh bagi pemerintah dan perusahaan untuk tidak gegabah dalam mengelola gambut”, sebut Isnadi Isman.

Kepala Desa Bagan Melibur, Drs. Komari terkait tapal batas tersebut saat ditemui Riau Pesisir di Aula Kantor Camat Merbau, Kamis (27/3) disela rapat koordinasi MTQ Tingkat Kecamatan Merbau membenarkan dan mengatakan, benar dua hari yang lalu ada masyarakat kami yang bergabung bersama masyarakat Mayangsari turun kelapangan perbatasan konsensi RAPP dengan Desa Bagan Melibur, ujarnya.

Diakuinya, kalau menurut perkiraan kami sudah hampir 1 (satu) kilometer yang sudah digali kanal yang lebernya diperkira lebih kurang 8 meter, sudah termasuk pada batas Desa Bagan Melibur, jelas Komari.

“Kata Komari, ini merupakan kehendak masyarakat, dari hasil pertemuan kemarin masyarakat minta agar RAPP kembali menimbun kanal yang sudah digali pada batas bagan Melibur. “namun pihak perusahaan tetap bersekukuh menolak untuk menimbun kanal yang sudah digali itu, paparnya.

Ia mengaku, disana galian kanal pada batas desa Bagan Melibur oleh perusahaan itu, katanya, sudah mendekati dengan kebun sawit masyarakat dan didepannya kebun karet (getah-red) tutup Komari.

Sementara, terkait hal ini pihak perusahaan RAPP belum berhasil dikonfirmasi oleh wartawan harian umum Riau Pesisir.

Camat Merbau Wan Abdul Malik,S.Pdi terkait hal ini mengaku dirinya pada saat itu tidak mengikuti dan tidak menghadiri pertemuan antara masyarakat bersama pihak perusahaan. Saya kemarin tidak ikut turun lapangan, cuma kami tetap koordinasi bersama Kapolsek Merbau, ucap Malik usai memimpin rapat koordinasi MTQ tingkat kecamatan Merbau, ketika itu didampingi Kapolsek Merbau AKP Syahruddin Tanjung, dan Danramil Merbau Hasan Ibrahim.

Kapolsek Merbau menambahkan, pada saat itu kita memang turun lapangan, kehadiran kita disana cuma mengantisiapasi agar tidak terjadinya tindakan anarkis antara masyarakat bersama pihak perusahaan.

Menurut kapolsek, saat itu sempat dilakukan pertemuan, namun tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, ungkap Kapolsek Merbau Syahruddin.(ali)

Sumber :
http://www.ripesnews.com/2014/03/konflik-pulau-padang-kembali-terjadi.html