subscribe: Posts | Comments

Pengelolaan Gambut Lestari oleh Masyarakat Mampu Minimalkan Terjadi Kebakaran

0 comments
Pengelolaan Gambut Lestari oleh Masyarakat Mampu Minimalkan Terjadi Kebakaran

Bencana kabut asap yang terjadi di Pulau Sumatera khususnya di Provinsi Riau, Jambi, dan Sumatera Selatan telah mengakibatkan dampak kerugian luar biasa, kemudian beberapa wilayah lain di Indonesia telah mulai memperlihatkan kondisi yang sama, walaupun pemerintah belum menetapkan situasi gawat ini sebagai bencana nasional.

Lihatlah Riau, status tanggap darurat asap telah disematkan di propinsi yang kaya SDA ini, dan diperpanjang hingga 11 Oktober 2015 (riaupos, 29/09/2015). Anak-anak sekolah diliburkan, beberapa perusahaan mengevakuasi karyawannya, banyak jadwal penerbangan dibatalkan karena tidak bisa tinggal landas ataupun mendarat, asap kiriman pun telah menaungi dan mengusik negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia, dan bencana ini telah mengakibatkan masyarakat Riau menjadi korban terpapar resiko asap sebanyak 44.871 orang dengan penderita ISPA sebanyak 37.396 orang (antaranews, 28/09/2015).

data-ispa

Data korban ISPA di Provinsi Riau mulai dari 29 Juni – 5 Oktober 2015. Dari data di atas terdapat 47.836 korban akibat kabut asap yang melanda daerah ini.

Kenapa kabut asap kembali berulang? sama seperti tahun-tahun lalu, membersihkan lahan dengan membakar yang akan digunakan untuk kegiatan perkebunan. Terulangnya bencana tiap tahun menunjukkan ketidakseriusan pemerintah serta pemecahan masalah yang tidak maksimal.

Mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada tahun lalu pernah mengungkapkan analisa dalam kunjungannya di Riau terkait penyebab kabut asap. Menurut SBY penyebabnya adalah sebagai berikut: (1) cuaca yang ekstrim; (2) lahan gambut yang mudah terbakar; (3) cara bercocok tanam penduduk dengan cara membakar; (4) tindakan membakar secara meluas bermotifkan finansial; (5) tidak optimalnya pencegahan oleh aparat di tingkat bawah; (6) kurang cepat & efektifnya pemadaman api; dan (7) penegakan hukum yang tidak bisa menyentuh master-mind pembakaran.

Kebakaran Lahan dan Hutan di Riau sejak Agustus, September, dan Oktober 2015 telah menyebabkan kabut asap berkepanjangan. 'Bencana buatan' ini terjadi karena pemerintah pusat maupun  daerah terdahulu telah mengobral izin kepada koorporasi Hutan Tanaman Industri (HTI) dan perkebunan sawit (foto : Antara)

Kebakaran Lahan dan Hutan di Riau sejak Agustus, September, dan Oktober 2015 telah menyebabkan kabut asap berkepanjangan. ‘Bencana buatan’ ini terjadi karena pemerintah pusat maupun daerah terdahulu telah mengobral izin kepada koorporasi Hutan Tanaman Industri (HTI) dan perkebunan sawit (foto : Antara)

Berbicara lahan gambut, maka Riau memiliki perjalanan kelam pengelolaan ekosistem rawa gambut, yang telah menyebabkan bencana berkepanjangan. Kabut asap akibat pembakaran hutan dan lahan terutama pada lahan gambut di Riau telah terjadi sejak 18 tahun lalu dan hingga saat ini tak pernah terselesaikan. Pengeringan gambut secara massive terjadi akibat eksploitasi lahan gambut secara besar-besaran untuk perkebunan sawit maupun Hutan Tanaman Industri (HTI) dengan akasianya. Kanalisasi lahan gambut dapat menyedot air dari lahan gambut yang belum terkanalisasi sejauh 5 km. Dalam kondisi demikian maka menyebabkan kandungan air berkurang dan akhirnya rusak sehingga gambut sangat rentan terbakar. Praktik inilah yang mengancam habitat satwa dan fauna, termasuk masyarakat dan ekologinya.

Berkaca dari bencana kabut asap yang terjadi, sesungguhnya masih terbuka kesempatan luas untuk memperbaiki dan meningkatkan pengelolaan ekosistem rawa gambut agar menjadi lebih baik. Salah satunya memberikan peran lebih besar pada masyarakat melalui akses terhadap pengelolaan lahan dan hutan, juga merancang insentif ekonomi dan pendampingan terus-menerus dalam mengelola potensi sumberdaya ekosistem rawa gambutnya. Masyarakat yang telah lama mendiami dan mengelola lahan gambut memahami bahwa mempertahankan ekosistem gambut tetap basah adalah sistem pengelolaan yang sesuai dalam rangka mempertahankan produktivitas ekosistem gambut.

anak-sd-asap

Anak sekolah terpaksa harus diliburkan karena situasi kabut asap yang tidak menentu. Tidak hanya di Riau, propinsi tetangga seperti Jambi dan Sumsel juga ikut meliburkan sekolah mereka (Foto : TribunNews)

Pengalaman Scale Up ketika melakukan studi terkait pengelolaan lahan gambut pada 2014 lalu, terungkap bahwa petani di Riau berpengalaman dalam memanfaatkan ekosistem lahan gambut dengan mengembangkan perkebunan kelapa. Mereka juga dapat memanfaatkan lahan gambut dangkal untuk persawahan pasang surut. Selain itu masyarakat adat Melayu yang hidup di hutan rawa gambut di sepanjang Sungai Kampar di Provinsi Riau, melakukan kegiatan pertanian lahan gambut seperti padi ladang berpindah yang memanfaatkan hasil hutan kayu dan non kayu (memancing, berburu, mengumpulkan madu, dan lain sebagainya).

Menurut Scale Up, studi dan dokumentasi kearifan lokal petani dalam pengelolaan lahan gambut, diharapkan dapat dimanfaatkan untuk membuat pedoman dalam perumusan arah kebijakan pengembangan lahan gambut yang memberikan penekanan pada aspek keberlanjutannya dengan melibatkan masyarakat. Meskipun diakui pada saat ini budaya pengelolaan lahan gambut oleh masyarakat telah mengalami pergeseran akibat iming-iming kelapa sawit, namun kearifan lokal dalam mempertahankan produktivitas lahan gambut tetap dipertahankan.

Kemudian daripada itu, masyarakat pesisir kepulauan yang tinggal di ekosistem rawa gambut, secara turun-temurun telah mengembangkan budidaya tanaman sagu (Metroxylon spp) sebagai sumber mata pencaharian utama mereka. Sistem pemanfaatan lahan gambut dengan budidaya tanaman sagu terbukti dapat mempertahankan watak alami ekosistem ini yang selalu basah dan terhindar dari ancaman terjadinya kebakaran. Hal ini penting, karena tanaman sagu adalah jenis tanaman asli yang tumbuh dan berkembang baik pada ekosistem gambut basah.

Pola Pemanfaatan Hutan Gambut oleh Masyarakat
Pola pemanfaatan hutan gambut oleh masyarakat sudah dilakukan semenjak zaman nenek moyang, dapat dilihat pada kegiatan ekonomi masyarakat Desa Penyengat yang didiami oleh suku asli Anak Rawa yang berlokasi di Kecamatan Sungai Apit Kabupaten Siak Provinsi Riau. Mereka memanfaatkan hasil hutan kayu maupun non kayu. Kayu digunakan sebagai bahan pembuat rumah, perahu, dan pemakaman. Non kayu seperti damar, getah sonde, ramuan obat obatan tradisional, ritual adat, dan dapat menjadi alat tukar dalam pemenuhan kebutuhan sehari- hari. Hutan adalah tempat mereka berburu dan lahan gambut yang mereka kelola ditanami dengan sagu, karet, dan palawija. Selain itu, laut dan sungai juga menjadi sumber utama dalam pemenuhan kehidupan mereka. Di desa ini terdapat kelompok perempuan yang terbentuk pada tahun 2009, namanya Kelompok Perempuan ‘Bina Harapan’ Desa Penyengat. Mereka mampu bergerak membangun ekonomi mandiri dengan mengembangkan pola pertanian palawija di lahan yang terbatas.

Penyelamatan Hutan Gambut oleh Masyarakat
Scale Up bersama jaringan lainnya (JMGR) telah melakukan sejumlah aksi dan advokasi tentang pentingnya menjaga dan melestarikan lahan dan gambut. Jika kelestarian diabaikan, dapat dipastikan akan mengancam ruang hidup habitat satwa dan fauna, termasuk masyarakat dan ekologinya. Scale Up tidak setuju dengan adanya ekspansi perusahaan kehutanan, perkebunan, dan tambang di wilayah gambut. Agar pelestarian gambut lebih menggema, Scale Up menggandeng media pers untuk bersama-sama membangun pemahaman masyarakat lebih baik terhadap pentingnya menjaga dan melestarikan hutan dan wilayah gambut, yang saat ini pengelolaan dan pemanfaatannya banyak merusak lingkungan.

Scale Up juga memahami bahwa sungguh diperlukan usaha dalam memperkuat masyarakat yang berada di sekitar kawasan gambut dengan meningkatkan pemahaman masyarakat tentang arti penting dari memelihara hutan dan wilayah gambut. (Scale Up)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture. Click on the picture to hear an audio file of the word.
Anti-spam image