subscribe: Posts | Comments

Penobatan Datuk Khalifah Berlangsung Khidmat di Hutan Rimbang Baling

0 comments
Penobatan Datuk Khalifah Berlangsung Khidmat di Hutan Rimbang Baling

Scale Up, Batu Sanggan – Ada yang meriah dan menjadi momen penting bagi masyarakat di Desa Batu Sanggan, sebuah desa eksotis di jantung hutan Sumatera, Hutan Rimbang Baling, yang ada di Kecamatan Kampar Kiri Hulu, Kabupaten Kampar Provinsi Riau, karena desa ini menjadi momen sejarah atas perhelatan penobatan khalifah.

Penobatan Khalifah Luhak Batu Sanggan, Kerajaan Gunung Sahilan Rantau Kampar Kiri tersebut berlangsung pada  Sabtu, 27 Januari 2018 di Balai Adat Kenegerian, Desa Sanggan, Kecamatan Kampar Kiri Hulu.

Hadir dalam acara penobatan Wakil Bupati Kampar, Catur Sugeng Susanto dan para undangan, Staf Kantor Presiden Abet Nego Tarigan, Dirjen PSKL, Anggota Dewan dari DPRD Kampar, Dinas Pariwisata Provinsi Riau, BPDAS Rokan dan Indragiri, P3E Sumatera-KLHK, P3E Sumatera DLH Kabupaten Kampar, dan sejumlah dinas/institusi lainnya yang ada di Riau. Selain itu hadir pula tokoh masyarakat dan adat, Lembaga Adat Kampar (LAK), ninik mamak, masyarakat Batu Songgan dan desa sekitar, serta pengunjung yang berasal dari luar kota lainnya, sehingga Desa yang cuma dihuni sekitar 115 KK itu menjadi sangat ramai. Selain acara penobatan, acara ini juga mengadakan agenda penting lainnya yaitu konsolidasi masyarakat hukum adat untuk percepatan proses penetapan hutan adat. Sebelum acara penobatan khalifah dimulai, wakil bupati dipasangkan terlebih dahulu Soluok di atas kepalanya oleh petinggi Kekhalifahan Batu Songgan sebagai tanda tali persaudaraan.

Diketahui bahwa Soluok merupakan ikat kepala yang yang berarti persaudaraan. Siapa saja yang dipasangkan Soluok, maka telah menjadi bagian dari saudara serantau Kampar Kiri.

Kemeriahan perhelatan ini pun tidak lepas dari kerja keras Kelompok Kerja (Pokja) Batu Belah, tim Scale Up dan WRI, AMAN Kampar, pemuda dan masyarakat Batu Sanggan.

Catur Sugeng Susanto dalam perhelatan menyatakan, Suparmantono yang dinobatkan sebagai Datuk Khalifah oleh Datuok Bandaro Hitam, agar dapat mengemban amanah yang diberikan kepadanya dan mampu menjadi panutan masyarakat. Selain itu Datuk khalifah hendaknya mampu menjaga kerukunan dan bisa menampung aspirasi masyarakat.

Di dalam acara, tim Scale Up berkesempatan membuka stand pameran yang memamerkan sejumlah publikasi terbitan Scale Up bertema Perhutanan Sosial dan Hutan Adat. Scale Up memamerkan produk-produk publikasi seperti buletin, komik, baju kaos, dan kalender 2018 dan dibagikan secara cuma-cuma kepada pengunjung dan warga. Menariknya baju kaos dan produk kalender 2018 bertema Perhutanan Sosial menjadi perhatian khusus oleh warga Desa Batu Songgan khususnya kaum ibu.

Panen Ikan di Lubuk Larangan

Pada Ahad pagi, masyarakat Batu Sanggan kembali berkumpul. Kali ini bukan di Balai Adat, tapi di tepian Sungai Subayang untuk menyaksikan prosesi pemanenan ikan di Lubuk Larangan. Beberapa warga memasang jaring dan kayu penghambat untuk memanen ikan. Tidak hanya warga setempat, panen ikan di lubuk larangan yang dikenal dengan cokau ikan lubuk larang diikuti pula oleh masyarakat di luar desa. Bahkan pada saat prosen pemanenan, Staf Kantor Presiden Abet Nego Tarigan, tim Scale Up dan WRI ikut serta turun ke sungai untuk menangkap ikan beramai-ramai. Banyak sekali jumlah ikan yang ditangkap saat itu seperti dari jenis juwaro, barau, dan kopiek.

Lubuk Larangan merupakan salah satu bentuk kearifan lokal untuk membudidayakan ikan secara alami. Selain menjaga hutan, lubuk larangan menjadi sebuah tradisi bagi masyarakat setempat dalam pengelolaan alam khususnya sungai. Pemanenan dilakukan setahun sekali dan sangat memberikan dampak yang signifikan bagi masyarakat karena mempererat rekatan persaudaraan dan meningkatkan rasa kepedulian dan kekompakan antar warga.

Uniknya di luar daripada prosesi pemanenan di Lubuk Larangan, ada aturan yang tidak boleh dilanggar. ikan yang hidup dan berkembang biak di dalam area tersebut dilarang keras diambil oleh siapapun juga. Barang siapa melanggar aturan ini, maka akan terkena nestapa seperti sakit atau meninggal.

Menjadi Daya Tarik Ekowisata

Desa Batu Songgan bisa dicapai dengan menggunakan alat transportasi sampan atau dikenal dengan piau oleh masyarakat sekitar. Dari Desa Gema – ibukota kecamatan yang bisa ditempuh sejauh 22 Km dari kota Lipat Kain – kemudian dilanjutkan dengan menaiki piau yang menyusuri Sungai Subayang (anak sungai Kampar Kiri), desa ini bisa dicapai dalam waktu sekitar satu jam. Dalam perjalanan, terlihat sungai diapit oleh perbukitan yang ditumbuhi pepohonan hutan alam yang lebat dan asri. Udara yang bersih dan hutan alam yang eksotik menjadi daya tarik dan bernilai jual sebagai kawasan wisata.

Kenegerian Batu Sanggan adalah kenegerian induk di Kekhalifahan Batu Sanggan, terdiri dari enam kenegerian termasuk Batu Sanggan. Kenegerian lainnya adalah Gajah Betalut, Terusan, Miring, Aur Kuning, dan Pangkalan Serai. Seluruh kenegerian berada di sepanjang aliran Sungai Subayang.

Di dekat desa ini terdapat sebuah batu yang disebut Batu Belah, dan menjadi daya tarik sendiri. Konon asal nama batu belah, berdasarkan pada cerita legenda yang berkembang di masyarakat sekitar. Masa dulu, Kenegerian Batu Sanggan kedatangan tamu tak diundang bernama Gak Jao, Gak Jao artinya orang berani dari tanah Jawa. Gak Jao menurut ceritanya adalah Patih Gajah Mada dari Kerajaan Majapahit yang datang ingin membawa Putri Lindung Bulan.

Gak Jao berciri tubuh tinggi besar, dan kehadirannya di desa membuat masyarakat gundah gulana dan pergi meninggalkan kampung. Gak Jao kesulitan menemui penduduk sehingga membikinnya kesal dan marah. Kekesalannya kemudian dicurahkannya dengan mencincang sebuah batu besar sebanyak dua kali dengan menggunakan pedang yang diasah tajam. Batu yang dicincang itu kemudian diberi nama Batu Bolah atau Batu Belah. Saat ini Batu Bolah bisa ditemui depan muara Sungai Batu Bolah.

Di Desa Batu Sanggan pun sudah terbentuk Pokja (Kelompok Kerja) Batu Belah yang terdiri dari para pemuda Desa Batu Songgan. Mereka ini terlibat aktif memperkenalkan Desa Batu Songgan kepada masyarakat luas bahwa desa mereka yang eksotis mampu memberikan kontribusi pada sektor pariwisata dan menjadi salah satu tujuan alternatif wisatawan. 

Untuk melengkapi pelayanan ekowisata, Tim Pokja telah mempersiapkan layanan menarik seperti berkemah (camping), mengambang di permukaan air menyusuri sungai menggunakan pelampung (body rafting), menyusuri Sungai Subayang menggunakan perahu karet (kayaking), dan berdiri di atas papan seluncur yang ditarik dengan sampan mesin (skyboarding). (mom-su)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture. Click on the picture to hear an audio file of the word.
Anti-spam image