subscribe: Posts | Comments

POTRET KEHIDUPAN SUKU ANAK RAWA DI KAMPUNG PENYENGAT, SIAK

0 comments
POTRET KEHIDUPAN SUKU ANAK RAWA DI KAMPUNG PENYENGAT, SIAK
RIAUPOS.CO – Tak ada lagi hutan untuk berburu. Melaut pun sudah tidak mendapat tempat. Menjadi buruh di perusahaan juga tidak bisa karena memerlukan ijazah. Inilah potret kehidupan masyarakat suku Anak Rawa meski dikepung perusahaan raksasa di Kabupaten Siak.
MOBIL minibus warna hitam yang ditumpangi Riau Pos akhirnya berhenti begitu sampai di Kampung Penyengat. Tepatnya di Dusun Tanjung Pal, Kecamatan Sungai Apit, Siak, Jumat (17/3) lalu. Perjalanan selama 3 jam itu cukup melelahkan. Di samping jauh, kondisi jalan yang dilalui membuat mual penumpang seisi minibus.Ketika itu jarum jam menunjuk pukul 11.30 WIB. Kepala Dusun I Tanjung Pal dan Ketua Badan Permusyawaratan Kampung (Bapekam) yang ditunggu, masih dalam perjalanan. Karena merekalah yang akan menjadi tour guide untuk mengunjungi beberapa wilayah yang dihuni suku asli Anak Rawa.

“Kita duduk saja di bawah pohon itu,” kata Koordinator Scale Up, Hasri, yang menemani Riau Pos berpergian seraya menawarkan minuman dingin sebagai kawan penunggu di tengah teriknya mentari. Setelah itu, dia lantas menuju rumah salah seorang warga.
Entah apa yang diperbincangkannya. Yang pasti dari kejauahan mereka tampak akrab.

Tak berapa lama akhirnya orang yang ditunggu pun datang. “Kehong,” begitu Kepala Dusun I Tanjung Pal memperkenalkan namanya. Di sampingnya berdiri Ketua Bapekam Toko.

“Tapi saya biasa dipanggil warga Joko,” ujarnya sambil menyalami Riau Pos.

Di Penyengat ini terdapat tiga dusun. Selain Tanjung Pal, juga ada Mata Rimba dan Sungai Mungkal. Menurut Kehong ada 377 KK yang terdata di Penyengat. Rata-rata masyarakat di sana merupakan keturunan asli suku Anak Rawa dan pendatang dari Sungai Rawa. Untuk sarana dan prasarana, Penyengat semenjak 2012 sudah memiliki akses darat. Walaupun masih berbentuk jalan kecil, hal tersebut masih sangat lumayan dibanding tahun sebelumnya. Yang mana warga harus menggunakan akses laut untuk berpergian keluar dari Penyengat.

“Di Tanjung Pal mungkin sudah mulai bercampur. Tapi di Mata Rimba dan Sungai Mungkal, rata-rata masih keturunan asli,” ujarnya.

Saat ini di Penyengat hanya ada SD dan SMP. Tepatnya di Tanjung Pal. Sementara untuk SMA di Sungai Rawa, yang terletak di seberang Penyengat.

Sedangkan di dua dusun lainnya sama sekali tidak ada sekolah. Padahal jumlah masyarakat yang tinggal di Sungai Mungkal cukup banyak. Maka dari itu, suku Anak Rawa hanya sedikit yang sekolah. Di samping tidak tahu apa fungsi sekolah, jarak antara dusun satu ke dusun lainnya sangatlah jauh. Dari Sungai Mungkal ke Tanjung Pal perlu waktu 2 jam menggunakan pompong.

Untuk berkomunikasi, warga Penyengat masih kental dengan aksen Melayunya. Karena semenjak dulu suku Anak Rawa memang menggunakan bahasa Melayu dalam percakapan sehari-hari.

Kehong dan Toko pun mengajak ke pelabuhan. Jaraknya cukup dekat. Hanya dengan berjalan kaki selama 10 menit dari rumah warga bisa sampai ke pelabuhan Tanjung Pal. Di sana sebuah sampan kecil dari kayu sudah menanti. Warga setempat biasa menyebutnya pompong. Agak gamang menaikinya. Lebar pompong tersebut sekitar dua meter dengan panjang sekitar 10 meter. Jadi ketika berada di atasnya harus tenang tidak boleh banyak gerak.

Mesin pompong dinyalakan. Bunyinya sangat keras. Sehingga Kehong harus bersorak untuk berbicara. Perlahan-lahan pompong yang ditumpangi bergerak menuju lautan lepas. Jalannya agak lambat.
“Kita ke Mata Rimba ya,” ujar Kehong.

Disebutkan Kehong, di Mata Rimba masih hidup salah seorang tetua suku Anak Rawa. Jadi jika bertemu nanti, pasti akan sangat puas untuk bertanya.

Beberapa menit berlayar dengan pompong dari kejauhan mulai tampak beberapa anjungan minyak lepas pantai milik perusahaan ternama yang beroperasi di Penyengat.

“Inilah kekayaan alam kita,”sebut Toko di tengah perjalanan.
Tidak jauh dari sana, masih di daratan Penyengat, terlihat pelabuhan bongkar muat kayu. Puluhan ponton nampak berjejer menunggu antrean muat kayu akasia yang dipindahkan dengan alat berat yang juga berukuran raksasa. Bisa dibayangkan kapal ponton berukuran besar ditumpuki kayu dengan ketinggian mencapai 3 kali tinggi ponton itu sendiri. Jumlah kayu yang diangkut pastilah sangat banyak. Pelabuhannya pun tampak megah dan sudah modern. Karena biasanya standar keselamatan perusahaan memang sangatlah ketat. Satu setengah jam berlayar, kulit terasa mulai menghitam karena selama itu berjemur di bawah matahari.

Perasaan tenang datang ketika sebuah perkampungan mulai terlihat dari dekat. Di depannya juga ada dermada. Pelan-pelan pompong merapat ke dermaga yang terbuat dari kayu setinggi 5 meter dari pantai memanjang ke daratan. Mesin yang tadinya ribut kini dimatikan. Untuk naik ke dermaga harus memanjat tangga yang juga dibuat dari kayu.

Masuk ke kampung tersebut, Ketua RT 02/RW 05 Erno (37) langsung menyambut. Ia pun mengajak ke rumahnya. Kondisi Dusun Mata Rimba memang cukup memprihatinkan. Rupanya tak lebih seperti sebuah desa yang tertimpa tsunami. Berantakan.

Rumah Erno cukup dekat jaraknya dari bibir pantai. Rumahnya terbuat dari kayu berbentuk rumah panggung simetris beratap rumbia. Di pintu masuk rumahnya tergantung untaian tangkal (jimat). Biasanya tangkal dibuat oleh dukun. Salah satu bagian dari tangkal adalah buah bekang. Yang kini cukup sulit ditemui. Konon katanya, buah bekang sangat sulit dibuka. Hanya orang berilmu seperti dukun saja yang bisa.

Erno pun memperkenalkan kakeknya, Rendang. Saat ditanya, Rendang tidak tahu berapa umurnya saat ini. Namun yang pasti jika dilihat secara fisik Rendang sudah berusia lanjut. Di sana dia mempersilakan duduk. Perbincangan pun dimulai. Kehong mulai mengutarakan maksud dan tujuan kedatangan Riau Pos.

Tanpa basa-basi Erno memulai pembicaraan. Dikatakannya Mata Rimba sudah ada sejak dulu. Ayahnya dulu adalah seorang kepala suku Anak Rawa dan ketua RT. Kata Erno, saat ini di Mata Rimba hanya tersisa 12 KK saja. Ada dua jenis pekerjaan yang dilakukan masyarakat di sini. Yakni melaut dan berkebun.

Namun saat ini, dia bersama warga lainnya hampir tidak memiliki harapan lagi. Laut yang dulunya lepas dan terasa luas kini sudah dirasa seperti tempat asing. Tak jarang kapal dan ponton menghancurkan gombang (jaring ikan) yang digunakan untuk menangkap ikan. Sedangkan untuk berkebun biasanya masyarakat Mata Rimba menanam pohon sagu. Tapi kini lahan sudah semakin sedikit.

Sagu yang ditanam juga punya banyak masalah. Jika tidak menjadi korban kebakaran lahan, paling tidak sagu yang ditanami habis dimakan hama kumbang tanduk. Ia menuturkan untuk melaut memerlukan biaya yang cukup mahal. Bahan bakar solar saat ini cukup susah didapat. Karena di samping tidak ada SPBU, solar yang dijual eceran berharga mahal. Harganya Rp8 ribu per liter. Untuk dua trip melaut memerlukan sekitar 10 liter.Erno sendiri mengaku hanya bersekolah hingga SD. Bisa baca dan berhitung sudah cukup baginya. Dia pernah mencoba melamar pekerjaan di sebuah perusahaan besar yang ada di sana sebagai buruh. Tapi kata Erno, pihak perusahaan tidak mau mempekerjakannya.
“Mereka membawa pekerja buruh dari Deli Medan sana,” katanya.

Harapan satu-satunya ialah dengan menangkap ikan kecil-kecil di pinggiran pantai. Yang mana nantinya dijadikan ikan asin baru dijual. Keuntungannya pun tidak seberapa. “Sampai saat ini kami belum pernah mendapatkan bantuan apa-apa dari perusahaan yang ada di sini. Kami juga tidak berani meninggalkan dusun untuk merantau,” ujarnya.

Hal itu dibenarkan Kehong. Bahkan untuk membantu sumur bor saja perusahaan tidak pernah merespon. Bagi warga Mata Rimba, air bersih sangat sulit didapat. Terlebih pada musim kemarau. Warga harus pergi ke Sungai Metas sana.

Dari Mata Rimba ke Sungai Metas perlu waktu dua jam dengan pompong. Belum lagi persoalan di sana yang katanya banyak buaya rawa.
“Kami heran juga. Warga sini tidak pernah minta uang, tapi minta pekerjaan saja. Saya rasa kalau hanya buruh yang menggunakan parang tak perlu ijazah lah,” ujar Kehong.

Erno kembali bercerita, di Mata Rimba kepercayaan animisme belum sepenuhnya hilang. Kini satu-satunya dukun yang cukup sakti di antara dua dusun hanya tersisa Rendang saja. Banyak orang yang datang berobat kepadanya.
“Kalau sakit kesurupan diganggu roh jahat mereka biasa datang ke Atuk,” jawab Erno.

Matinya Kilang Sagu Akiong
Puas berbincang denga keluarga besar Erno, Kehong dan Toko mengajak singgah ke kilang sagu milik Akiong. Hanya perlu sekitar setengah jam dengan pompong untuk sampai ke sebuah pelabuhan kecil lainnya. Di sana ada sebuah kedai kecil. Sembari beristrahat Kehong memanggil Akiong keluar.

Akiong warga asli Penyengat keturunan Tionghoa yang sejak lahir dan besar tinggal di sana. “Kilang sagu milik saya sudah lima tahun terakhir antara hidup dan mati,” ujar Akiong membuka pembicaraan.

Ia menceritakan, dulunya sebelum perusahaan yang mengepung kampung Penyengat, sagu milik masyarakat tumbuh subur tanpa ada hambatan. Itulah masa-masa kejayaan kilang sagu miliknya. Saat ini usahanya seperti mati suri. Hal tersebut terlihat dari heningnya aktivitas di lahan seluas 500 meter yang berada tepat di belakang kedainya. Ada banyak tual sagu yang teronggok di kilangnya. Itu dibiarkan saja tanpa diproses. Di sana juga tidak ada satu pun pekerja. Hanya ada kilang, tual sagu yang teronggok dan mesin yang tidak bergerak. “Satu tual itu kurang lebih ukurannya 43 inci. Kami baru bisa proses menjadi tepung sagu jika jumlah sagu sudah mencukupi,” ujarnya menjelaskan.

Pada 2015 lalu, dia sempat mengalami kerugian besar. Akibat kebun sagu miliknya terbakar habis oleh rambatan kebakaran lahan di sekitar tempatnya. Pokok sagu, lanjut Akiong jika sudah terbakar sudah tidak ada gunanya lagi. Jangankan untuk dijual diberi secara gratis saja orang tidak ada yang mau.

Akiong mengajak berjalan melihat kondisi wilayah tempatnya. Di bibir pantai terlihat ribuan batang kayu tanpa tuan mengonggok seperti sampah.
“Saya tidak tahu asalnya dari mana. Tapi yang cukup logis kayu-kayu tersebut berasal dari perusahaan kayu di sekitar wilayah tersebut. Kami tak berani ambil karena takut bermasalah. Jika tidak dibuang pun itu akan merusak. Karena sewaktu pasang datang gemuruh ombak disertai kayu-kayu bulatan tersebut dikhawatirkan dapat menghancurkan rumah atau pun pelabuhan,” katanya.

Malam tanpa Cahaya di Tanjung Pal
Malam harinya Riau Pos menjumpai tetua adat yang tinggal di Tanjung Pal, Kiat. Namun sayangnya Kiat tidak di rumah. Di sana bertemu dengan Apo (37) anak sulung Kiat. Apo, merupakan seorang tokoh wanita di Penyengat. Ayahnya, juga salah seorang tokoh adat suku Anak Rawa.

Dari cerita Apo, ia masih merasakan hidup di zaman yang masih kental akan adat kesukuan hingga saat ini. Ia mengatakan sejarah asal muasal suku Anak Rawa yang pertama kali menghuni Sungai Lancur Darah (Sungai Rawa) saat ini. Karena banyaknya pendatang baru, suku Anak Rawa bergeser ke Penyengat. Yang paling banyak saat ini menghuni Mata Rimba dan Sungai Mungkal. Mengenai adat istiadat yang kuat, hanya tetua saja yang masih enggan memeluk agama.Ia bersama saudara lainnya sudah memilih sebuah agama untuk menjadi kepercayaan. Seperti dirinya yang memutuskan untuk beragama Kristen.

Sedangkan kakaknya memilih memeluk Islam. Namun begitu hingga saat ini belum terjadi satupun konflik yang disebabkan permasalahan agama.
“Ayah saya masih belum memutuskan milih agama apa. Tapi itu bukanlah sebuah persoalan,” ujar Apo yang tampaknya sedikit modern.

Menurut Apo, dia termasuk satu-satunya anak dari ayahnya yang berhasil menamatkan sekolah hingga SMA. Untuk itu, ia bersikeras agar anaknya mendapati pendidikan yang layak.

Soal percaya kepada roh-roh saat ini sudah mulai menghilang. Sejak masuknya ustaz dan bidan, warga dusun lebih memilih berobat ke sana. “Jumlah yang berobat ke dukun lebih sedikit sekarang,” katanya.

Lebih jauh Apo menceritakan, dulunya suku Anak Rawa mendapatkan tempat yang istimewa di Kerajaan Siak. Karena sifatnya yang bisa memegang amanah dan jujur. Tak jarang suku anak rawa diperkerjakan oleh kerajaan sebagai penagih upeti (pajak) kepada masyarakat Siak. Namun kini mereka harus kehilangan jati diri. Televisi dan handphone lebih menjadi primadona dibanding tarian adat dan ritual adat lainnya.

“Kalau kemajuannya positif tidak ada masalah menurut saya. Yang penting nilai suku dan adat tidak hilang sampai saat ini,” harapnya.

Dari sekian banyak rumah di Tanjung Pal, rumah Apo termasuk yang memiliki penerangan. Ia mengatakan, untuk listrik di kampungnya masih menggunakan PLTD yang dikelola sekretaris desa. Dalam satu malam, Apo memerlukan 3 kWh listrik. Yang mana dalam setiap kWh listrik yang dibeli di hargai Rp5 ribu.Maka dari itu, Apo harus merogoh kocek sebanyak Rp15 ribu permalamnya hanya untuk listrik. Dalam sebulan besarannya mencapai Rp450 ribu hingga Rp500 ribu.

“Makanya kami hanya beli listrik untuk malam hari saja. Dari pagi sampai senja kami tak pakai listrik,” ujarnya Apo.

Di sekeliling rumah Apo tak satu pun rumah diterangi lampu. Karena tidak semua warga mampu membayar listrik dengan harga semahal itu. Suaminya yang bekerja di Pelabuhan Butong hanya mampu menghasilkan sekitar Rp2 juta. Selain memikirkan listrik bulanan, Apo harus menyekolahkan empat anaknya. Dua orang di antaranya sekolah di Pakning. Jika ditotal pengeluaran Apo dalam satu bulan mencapai Rp5 juta. Untuk menutupi kekurangannya, Apo terpaksa ikut banting tulang menjadi petani nenas.

“Nenas harapan kami satu-satunya di sini. Karena jika bekerja di perusahaan sekitar tidak mungkin. Perusahaan tidak mau menerima warga tempatan. Kalau sawit atau sagu, di samping lama masa tanamnya tantangannya sangat banyak. Untuk melaut tidaklah. Kemarin saja ada seorang nelayan yang hampir mati ditabrak kapal,” sebutnya.

Sudah Ada Kemajuan
Terkait kondisi di Kampung Penyengat ini, kata Bupati Siak H Syamsuar, saat ini telah dibuka akses menuju kampung ujung di Kecamatan Sungai Apit, yaitu Teluk Lanus. Jaraknya 68 km dari Sungai Rawa sudah dimulai pembangunan bodi jalan tahap pertama 10 km. Begitu juga dengan sarana pendidikan dan kesehatan. Di sana sudah dibangun sekolah. Sejak ia memimpin, kampung tersebut telah mengalami kemajuan. Terutama infrastrukturnya.

“Sekolah, puskesmas, rumah ibadah seperti masjid dan vihara sudah ada di sana,” kata Syamsuar.

Begitu juga dengan listrik, kata Syamsuar, pusat pembangkitnya di Rawa Minyak. Pemkab membangun jaringan sampai ke kampung tersebut. Menyangkut dengan sektor perkebunan yang dikelola warga, terutama sagu, tetap juga dilakukan pembinaan. Hanya saja, dari penelusuran di sana, kebanyakan warga mengelola perkebunan sagu milik warga Meranti. Untuk perkebunan masyarakat tetap diperhatikan Pemkab. Sebab hal itu mata pencarian mereka.Dalam rencana Pemkab ke depan di sana dibangun Museum Suku Akit. Pembangunan museum itu bagian dari grand desain kebudayaan, agar hal itu tetap lestari. Begitu juga dengan suku Sakai, dibuatkan museum. Terhadap tingkat pendidikan anak-anak tempatan di sana, Syamsuar justru sudah meningkat. Mereka tak lagi tamatan SD dan SMP. Bahkan kini, sudah ada yang disekolahkan di perguruan tinggi ternama di Tanah Air dan juga pondok pesantren di Jawa.

Dikatakan Syamsuar, bantuan terhadap warga miskin tetap ada. Baik dari pemerintah maupun dari BAZ Siak. Anak Sungai Rawa ini, mereka sangat familiar di bidang seni dan budaya. Pemkab kerap kali melibatkan mereka setiap pagelaran iven.
“Di sana terkenal joget sonde, ngeben dan lainnya,” kata dia.

Diakui Syamsuar, dalam peningkatan sarana prasarana di sana dilakukan bertahap. Bahkan di sana kelak bakal maju. Karena berdekatan dengan kawasan industri. Tentunya hal ini jadi peluang bagi masyarakat di sana dalam berusaha. Sementara untuk bekerja di perusahaan, hal ini nantinya difasilitasi pemkab.

“Perlu juga diketahui, anak-anak di sana sudah ada yang diterima di perusahaan di kampung mereka,” ujar Syamsuar.(aal/ted)

Laporan :AFIAT ANANDA

 Sumber : Riaupos.co

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture. Click on the picture to hear an audio file of the word.
Anti-spam image