subscribe: Posts | Comments

Ribuan Masyarakat Lingkar Tambang Muratara Hadang Ratusan Brimob

0 comments
Ribuan Masyarakat Lingkar Tambang Muratara Hadang Ratusan Brimob

Muratara, Sumsel (Nusantara TIME) – Ribuan masyarakat Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara) yang berada di lingkar tambang PT. Dwinad Nusa Sejahtera (PT.DNS) Jumat (10/7) berhasil menghadang ratusan aparat dari kesatuan Brimob yang bertujuan membuka blokade akses jalan menuju lokasi pertambangan emas PT.DNS.

Beruntung, pada kejadian penghadangan oleh masyarakat lingkar tambang sore hari Jumat (10/7) sekitar Pukul 16.30 WIB tidak terjadi apa-apa. Masyarakat secara bersama-sama meminta kepada para aparat untuk tidak melakukan pemaksaan kehendak, membuka blockade berupa penutupan akses jalan menuju lokasi pertambangan emas PT.DNS.

Sesuia dengan permintaan masyarakat, yang ketika itu disampaikan salah satu masyarakat. Bahwa, pihaknya tidak akan melakukan pembiaran pembukaan akses jalan yang ditutup pihaknya jika ketiga orang aktivis dari pihaknya itu tidak dibebaskan tanpa bersyarat.

Penutupan jalan yang dilakukan persatuan masyarakat lingkar tambang yang terdiri dari masyarakat Desa Sukamenang, Rantau Telang, Tanjung Agung, Muara Batang Empu Kecamatan Karang Jaya Kabupaten Musirawas Utara Provinsi Sumatera Selatan dilakukan tepat di persimpangan Desa Sukamenang – Rantau Telang itu merupakan cara masyarakat melakukan protes terhadap prilaku PT.DNS yang telah meresahkan pihaknya dengan berbagai konflik yang belum juga kunjung diselesaikan.

Kronologis kejadian, awal mulanya pemblokadean jalan tersebut asal muasalnya yakni dipicu sikap pihak PT.DNS yang menggunakan aparat kepolisian dari kesatu Jatanras Polda Sumsel untuk menangkap tiga orang aktivis lingkungan Kabupaten Muratara . Penangkapan dilakukan pihak aparat, didasari laporan pihak PT.DNS menuduh tiga orang aktivis melakukan pemerasan. Demikian disampaikan Hendra Bahalis selaku pihak keluarga aktivis sekaligus sebagai pihak mewakili masyarakat lingkar tambang pada Jumat (10/7).

“Tiga rekan kami aktivis lingkungan sekaligus aktivis pembela hak-hak masyarakat lingkar tambang disini, telah ditahan di rutan Polda Sumsel. Mereka dituduh melakukan pemerasan terhadap perusahaan PT.DNS. Sebenarnya hal itu tidak benar, tuduhan itu sepihak,” ujarnya.

“Mereka itu dijebak oleh pihak PT.DNS, dengan laporan kepada kepolisian yakni tuduhan seoalah-olah tiga orang aktiis telah melakukan pemerasan. Padahal transaksi yang siap dilakukan pihak PT.DNS sebenarnya karena sudah ada kesepakatan kedua bela pihak yakni antara pihak PT.DNS dengan pemilik lahan, yang mana pemilik lahan itu juga adalah salah satu aktivis yang ditahan itu yakni Afika Amirudin (35). Sebelum transaksi dilakukan, kedua belah pihak sepakat bahwa PT.DNS siap membayar sebesar enam puluh lima juta (Rp.65.000.000,-). Namun saat mau dilakukan pembayaran di Hotel City di Kota Lubuk Linggau malah yang datang segerombolan aparat lalu menangkap mereka,” tuturnya.

 Akhirnya, dua orang aktivis Jamel Abdul Yazer (33) dan Adi Candra (32) yang ikut mendampingi Apika Amirudin ketika bertemu dengan pihak PT.DNS ikut juga ditangkap untuk dilakukan penahanan atas tuduhan pihak perusahaan tersebut. Tanpa perlawanan tiga orang aktivis diborgol lalu dibawa ke Polda Sumsel yang mana jarak tempuhnya dari Kota Lubuk Linggau itu cukup jauh.

 Sesuai dengan keterangan saksi mata Mendra (21) kepada Nusantara Time, penangkapan itu dilakukan pihak aparat Polda Sumsel di Hotel City Jalan Yos Sudarso pada Rabu (8/7) sekitar Pukul 15.00 WIB. Ia melihat tiga orang tersebut dibawa langsung ke mobil dan untuk dibawa ke Polda Sumsel. Karena jarak tempuh cukup jauh, sehingga mereka tiba di Polda Sumsel hari Kamis (9/7) sekitar Pukul 09.00 WIB.

 “Saya lihat disitu banyak aparat kepolisian bersenjata lengkap, kemudian ada pihak PT.DNS yaitu Pak Agus ada juga Pak Siran. Saat saya lihat mereka diborgol itu saya lihat pihak perusahan utamanya Pak Agus tertawa-tertawa sambil berjalan mengiringi polisi yang sedang menggiring mereka yang ditangkap itu,” ujarnya.

 Berdasarkan, keterangan pers pihak Polda Sumsel Kamis (9/7) yang disampaikan Kasubdit III Ditreskrimum Polda Sumsel AKBP Irsan S bahwa ditangkapnya tiga aktivis tersebut saat mereka menunggu uang yang akan diberikan pihak PT.DNS. Ketika ketiganya sudah berada di hotel, pihaknya langsung melakukan penangkapan. Pihaknya juga langsung melakukan pengamanan barang bukti berupa uang senilai Rp.65.000.000.

 Hari Kamis (9/7) pihak keluarga aktivis yaitu Hendra Bahalis dan keluarganya yang lain berhasil membesuk tiga orang tahanan tersebut. Pada pertemuan besuk itu, ketiga orang aktivis itu mengaku pihaknya dipaksa pihak penyidik kepolisian melakukan penandatanganan BAP, dan dipaksa juga menandatangani surat kuasa pengacara yang ditujukan langsung oleh pihak penyidik Polda Sumsel.

 “Saya tanya mereka bertiga, mereka mengatakan hal yang sama bahwa mereka dipaksa menandatangani surat-surat itu. Awalnya mereka menolak, namun karena dipaksa dengan dipukuli jika tidak mau menandatangani surat BAP sebagai pengakuan bahwa mereka telah memeras. Katanya, daripada kita setengah mati dipukul lebih baik kita ikuti saja perintah untuk tandatangan surat itu,” ucap Hendra Bahalis meniru perkataan tiga orang aktivis itu.

Didalam runyamnya kasus tersebut, Hendra bahalis dan keluarganya juga bersyukur bahwa pihak Polda Sumsel memudahkan proses pencabutan surat kuasa pengacara yang ditunjuk oleh pihak penyidik.

“Kita sudah cabut surat kuasa dari pengacara yang ditunjukan pihak Polda Sumsel. Dan kita juga sudah melakukan penyerahan kuasa kepada pengacara yang diinginkan pihak kami. Ketiga saudara kami ini, rencananya akan kami ajukan permohonan visium. Supaya kedepan ada pembelaan secara keadilan kepada mereka,” urainya.

Lebih lanjut ia mengatakan, adapun tujuan pihak perusahaan PT.DNS berusaha mengakali tiga orang aktivis lingkungan itu. Karena belakangan ini sering melakukan protes terhadap prilaku perusahaan yang sengaja mencemari lingkugan air konsumsi masyarakat dibantaran Sungai Rupit, yang tembus ke sungai besar Musi.

“Selain itu mereka aktivis lingkungan ini juga belakangan ini juga telah berupaya membantu nasib masyarakat lingkar tambang yang menggantungkan hidup dilahan masyarakat yang diserobot PT.DNS, yang mana hingga saat ini belum juga diganti rugi pihak PT.DNS. Padahal permasalahan ini sudah dilaporkan ke Bupati setempat, Kementerian ESDM RI, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI, Kepolisian setempat, Gubernur Sumsel, dan ke Ombudsman RI, Komnasham RI, BPN RI, Sekneg RI bahkan ke KPK,” tutupnya. (Laporan : Tom).

Editor : Yusdianto

Sumber: nusantaratime.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture. Click on the picture to hear an audio file of the word.
Anti-spam image