subscribe: Posts | Comments

Scale Up Bakal Rilis Panduan Jurnalis Meliput Konflik SDA

0 comments
Scale Up Bakal Rilis Panduan Jurnalis Meliput Konflik SDA

Scale Up, Pekanbaru – Liputan konflik berlatar belakang sumber daya alam (SDA) di media acap kali dituding sepihak, tidak berempati pada korban dan dangkal sehingga tidak mampu menjelaskan apa sebenarnya menjadi pemicu konflik tersebut.

Demikian sebuah kalimat pembuka dalam bab pertama buku saku Panduan Jurnalis Meliput Konflik SDA, yang sedang disusun oleh Scale Up bekerjasama dengan Aliansi Jurnalistik Independen (AJI) Riau.

Ada sejumlah kelemahan liputan konflik di tanah air selama ini. Antara lain kurang mengetahui sejarah dan karakteristik konflik, dan tidak mengenal medan. Selain itu jarang menyiapkan daftar narasumber dan jarang turun ke lapangan untuk verifikasi. Demikian kata Fahrurrozi, Ketua AJI Riau pada Senin (16/62014) di Swiss-Belinn Hotel Pekanbaru.

“Peliput lebih suka berita berdarah-darah, mengesampingkan sisi kemanusiaan, jarang menawarkan solusi konflik, dan hanya bermodalkan semangat, tanpa memperhitungkan keselamatan sendiri, “ ungkapnya, di sela-sela pembahasan draft buku saku.

Pertemuan antara Scale Up dan AJI Riau pada Senin di ruang pertemuan Seloka I tersebut, merupakan pertemuan awal untuk menyempurnakan penulisan draft buku dengan mendengarkan sejumlah koreksi, saran atau masukan dari beberapa anggota AJI dan Scale Up, sebelum menghasilkan draft final.

Menurut Harry Oktavian, Direktur Eksekutif Scale Up, kerjasama yang dijalin antara Scale Up dan AJI Riau dalam penulisan buku saku ini, berangkat dari fenomena konflik yang kian meningkat akhir-akhir ini di Riau, sehingga seiring dengan fenomena itu, berita berkenaan dengan konflik khususnya konflik SDA pun semakin sering diekspos di media massa.

“Tetapi publikasi berkenaan dengan peristiwa konflik SDA dari sisi konten berita sering tak mendalam atau dangkal, dan hanya sebatas permukaan,” ujarnya.

Dengan hadirnya buku saku, dapat menjadi pedoman bagi para jurnalis khususnya dalam meliput peristiwa konflik yang dipicu oleh SDA yang intensitasnya semakin meningkat belakangan ini. Demikian tambah Harry.

“Berpedoman dari isi buku panduan, diharapkan para peliput peristiwa konflik SDA, dapat menyajikan sebuah berita konflik yang memiliki akurasi, cermat dalam berbahasa, tidak provokasi, cukup analisa, cover both sides, dan tentunya yang paling penting, selalu menjunjung kode etik jurnalistik,” tutup Harry. [mom-su]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture. Click on the picture to hear an audio file of the word.
Anti-spam image