subscribe: Posts | Comments

Scale Up dan Akar Dorong Kolaborasi Pengelolaan Kawasan Konservasi

0 comments
Scale Up dan Akar Dorong Kolaborasi Pengelolaan Kawasan Konservasi

Kepahiang, Scale Up – Kolaborasi pengelolaan kehutanan melalui skema-skema dalam kebijakan perhutanan sosial seperti kemitraan merupakan titik awal partisipasi para pihak dalam pengelolaan kawasan. Pertisipasi pengelolaan kawasan hutan diharapkan mampu untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat, perlindungan Daerah Aliran Sungai (DAS), dan konservasi kawasan.

Untuk mendorong terwujudnya kolaborasi, Scale Up dan Akar Foundation pada Senin (25/09/2017) menyelenggarakan Workshop di Kabupaten Kepahiang, Bengkulu dengan mengundang seluruh masyarakat dari Kabupaten Kepahiang, Rejang Lebong, Riau, dan Jambi. Selain itu, dari pihak pemerintahan akan mengundang Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem KLHK, Bupati Kabupaten Kepahiang, DPRD Kabupaten Kepahiang, Balai Konservasi Sumber Daya Alam Provinsi Bengkulu, Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Bengkulu, Kelompok Kerja Percepatan Perhutanan Sosial Bengkulu dan Ombusdman RI Perwakilan Bengkulu.

Output dari kegiatan ini adalah agar masyarakat mengetahui peluang kebijakan dan kerjasama dengan para pemangku kawasan untuk melakukan tatakelola di kawasan hutan. Demikian ungkap Istiqomah Marfuah dari Scale Up sebagai penanggungjawab kegiatan.

“Kemudian adalah terbangunnya kesepahaman masyarakat mengenai pentingnya pengakuan hak dan akses terhadap ruang kelolanya, serta tersusunnya agenda kolaborasi pengelolaan di kawasan konservasi,” tambah Istiqomah.

Acara workshop yang berakhir pada sore Senin, akan dilanjutkan dengan kegiatan Field Trip pada esok harinya, Selasa (26/09/2017). Kegiatan ini merupakan kegiatan yang akan dilakukan sebagai wadah learning and sharing center terkait bagaimana masyarakat dapat mengelola dan memanfaatkan lahan berkonflik secara produktif.

Field Trip akan mengunjungi lokasi pengelolaan produk kopi di Desa Bandung Jaya, lalu dilanjutkan dengan diskusi dan sharing terkait bisnis produk hasil Hutan Kemasyarakatan yakni Kopi AKAR bersama anggota Koperasi HKm Cahaya Panca Sejahtera Kabupaten Rejang Lebong.

Hadir dalam diskusi Supriyanti, Kepala Desa Bandung Jaya, Kepahiang. Selain sebagai kepala desa, ia juga merupakan seorang pengusaha kopi luwak yang berhasil. Dibantu suaminya Winarno, mereka kemudian memproduksi kopi luwak hitam merk Bagus dan dijual dengan harga Rp.600 ribu perkilo.

Hasil yang diharapkan dari kegiatan ini, masyarakat dari Desa Teluk Meranti dan Koto Lamo Provinsi Riau serta masyarakat dari Jambi dapat memahami pentingnya pengakuan hak dan akses kelola masyarakat terhadap ruang kelolanya untuk peningkatan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat sekitar hutan. Demikian kata Istiqomah Marfuah.

Menurut Harry Oktavian, Direktur Eksekutif Scale Up, Scale Up setiap tahun selalu melakukan ekspos data konflik sumberdaya alam di Riau. Scale Up lalu berpikir bagaimana merubah situasi konflik ini meskipun usaha ini bukanlah perkara yang mudah.

“Melewati proses yang panjang, Scale Up mencoba mengembangkan model-model seperti kemitraan dan kolaborasi. Dan pada rentang 2 hingga 3 tahun terakhir, Scale Up telah bekerjasama dengan Akar Foundation untuk menggagas bagaimana membangun kemandirian masyarakat di wilayah konservasi,” ujar Harry.

Ditambahkannya, pada era Presiden Jokowi sekarang, terbuka ruang bagaimana masyarakat bisa mendapatkan akses pengelolaan sumber daya alam dan bagaimana membangun kemandirian bersama pemerintah dalam pengelolaan sumber daya alam.

“Pemerintah wajib mendukung. Hari ini kami belajar bagaimana masyarakat desa berhasil mengelola sumber daya alam di desanya sendiri. Kekompakan masyarakat menjadi mutlak sebagai langkah untuk bisa menyelesaikan konflik yang terjadi. Masyarakat yang berkunjung dari Riau dan Jambi ke sini, sangat terinspirasi atas swadaya masyarakat dalam mengelola sumber daya alam di wilayahnya,” terang Harry.

Di sini kami mencoba untuk mengetahui lebih dalam bagaimana pengelolaan sumberdaya alam yang baik, melihat peluang, dan bagaimana menggerakkan potensi-potensi ekonomi dan sumberdaya alam yang ada. Komunikasi kita bersama masyarakat Desa Bandung Jaya tidak hanya berhenti hari ini, kita akan terus jalin komunikasi demi keberlanjutan hubungan ke depan. Demikian tutup Harry. (mo)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture. Click on the picture to hear an audio file of the word.
Anti-spam image