subscribe: Posts | Comments

Scale Up Gelar Lokakarya Pengelolaan Kolaboratif Semenanjung Kampar

0 comments
Scale Up Gelar Lokakarya Pengelolaan Kolaboratif Semenanjung Kampar

Pekanbaru, Scale Up – Scale Up kembali menggelar acara lokakarya, kali ini mengusung tema “Pengelolaan Kolaboratif Semenanjung Kampar Minimalisasi Konflik Sumber Daya Alam.” Acara ini diselenggarakan pada 29 – 30 April 2014 di Hotel Grand Tjokro Pekanbaru.

Acara lokakarya yang bekerjasama dengan FMSK (Forum Multipihak Semenanjung Kampar), diikuti oleh perwakilan dari instansi pemerintah, perusahaan (swasta), perguruan tinggi, LSM, dan sejumlah masyarakat terutama yang berada di wilayah Semenanjung Kampar.

FMSK merupakan sebuah wadah kesepahaman untuk pengelolaan Semenanjung Kampar secara kolaborasi, atau sebuah bentuk kelembagaan multipihak yang mendorong pengelolaan bersama, dan komponen-komponennya terdiri dari pemerintah, masyarakat, pebisnis, akademisi, dan Ornop.

Menurut Direktur Eksekutif Scale Up, Harry Oktavian, semenjak kawasan Semenanjung Kampar ditetapkan sebagai wilayah Kawasan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP) Model Tasik Besar Serkap oleh Menhut pada 21 September 2010, maka diperlukan suatu pengelolaaan kawasan yang terencana dengan baik, lestari, dan berkelanjutan dengan saling berbagi peran, berbagi tanggungjawab dan berbagi manfaat.

“Pengelolaan kawasan hutan bukan sebuah langkah yang mudah dan tidak jarang terjadi konflik di dalamnya. Demi meminimalisasi konflik sumber daya alam, suatu bentuk pengelolaan yang bersifat kolaboratif secara terencana dan terintegrasi sangat diperlukan agar harapan menuju kelestarian hutan atau kelestarian ekosistem dan kesejahteraan masyarakat dapat diwujudkan,” ujarnya.

Dijelaskannya, tujuan lokakarya ini adalah pertama, menyampaikan informasi terkini tentang kebijakan dan pengelolaan kehutanan di Semenanjung Kampar. Kedua, mendorong terjadinya kolaborasi para pihak di Semenanjung Kampar dalam upaya meminimalisasi konflik sumberdaya alam, dan ketiga, membangun rencana bersama pengelolaan kolaboratif di Semenanjung Kampar.

“Capaian dalam pertemuan ini adalah semua pihak di Semenanjung kampar mengetahui kebijakan dan pengelolaan kehutanan yang sedang berlangsung di Semenanjung Kampar. Kemudian semua pihak di Semenanjung kampar memiliki kesepahaman meminimalkan konflik di dalam pengelolaan hutan semenanjung kampar, dan tersusunnya rencana bersama pengelolaan Semenanjung Kampar yang dibangun secara partisipatif,” ungkapnya.

Dalam acara lokakarya ini, sejumlah pihak sebagai narasumber memaparkan presentasi bertema konsep pengelolaan kolaboratif di wilayah Semenanjung Kampar, diantaranya adalah perwakilan dari PT. Gemilang Cipta Nusantara (PT GCN), KPHP Tasik Besar Serkap, Projek Korea Indonesia, Desa Segamai (Hutan Desa), April, dan APP.

Diketahui bahwa saat ini kawasan Semenanjung Kampar telah dibebani perizinan pemanfaatan hutan untuk hutan tanaman industri, perkebunan kelapa sawit, restorasi ekosistem, serta hutan desa. Dengan adanya kebijakan model pengelolaan hutan bagi masyarakat seperti Hutan Desa, pemerintah bermaksud untuk memberikan akses kepada masyarakat setempat melalui lembaga ekonomi masyarakat dan desa dalam memanfaatkan sumberdaya hutan secara lestari dengan harapan meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat secara berkelanjutan, serta KPH diharapkan menjadi peluang bagi masyarakat dalam penyelesaian konflik. [mom-su]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture. Click on the picture to hear an audio file of the word.
Anti-spam image