subscribe: Posts | Comments

Tuah Nanas di Rawa Penyengat

0 comments
Tuah Nanas di Rawa Penyengat

Saat sawit ditebas berganti nanas, nasib membawa peruntungan dan harapan baru bagi warga Rawa Penyengat, Riau. Lahan gambut nan rentan kini terjaga dari kekurangan air agar api tak lagi menyengsarakan.

Rawa gambut Penyengat masih menyisakan tajuk sawit. Berbeda di Kampung Adat Asli Anak Rawa Penyengat, kerindangan sawit tak nampak lagi menjadi tanaman utama. Masyarakat menggantikannya dengan nanas. Pemandangan kampung ini tak lagi menyisakan ilalang dan perdu yang tumbuh di sembarang tempat.

Tunas nanas dengan ujung daun bercerucup dengan berani mengambil alih wilayah belukar perdu. Tunas-tunas nanas bersemi di lahan pekarangan rumah, bahu jalan dan lorong-lorong kebun sawit.

Apo, perempuan paruh baya sudah tiga tahun terakhir berkebun nanas di kampung ini. Berlokasi di pesisir kabupaten Siak. Kampung Adat Asli Anak Rawa Penyengat dapat ditempuh 1 hingga 2 jam melalui perjalanan mengendarai sepeda motor dari pusat ibu kota Kabupaten Siak.

Permukaan tanah berwarna coklat kehitaman dengan tekstur kempuh dan membal. Itulah rasa saat menginjakan kaki di lahan gambut. Gambut terbentuk dari remah-remah aneka hayati yang renik dan basah. Lahan gambut terhampar di seluruh wilayah Kampung Penyengat, menyerupa petala permadani.

Di simpang jalan sebelum masuk pemukiman, nampak tunas nanas berjajar rapih di sela-sela kebun sawit. Semburat rona kemerahan pucuk daun nanas, terpancar sumringah. Kuning keemasan bakal buah nanas mulai merekah di balik daun-daun tajam.

Apo, ibu dengan empat anak ini sadar betul, menanam nanas di lahan gambut ibarat melempar dadu. Menanam nanas belum terbilang hal baru. Apalagi tidak ada jaminan pembeli skala besar, jika tunas nanas berbuah segar melimpah.

Seperti juga nanas yang tak selalu manis, nasib pun tak selalu beruntung. Kegagalan demi kegagalan menjadi bagian cerita tersendiri, bagaimana Apo mencoba peruntungan dengan menanam nanas di lahan gambut.

Apo dan keluarganya tengah sibuk merawat tunas nanas yang terhampar sekitar 1 hektar lebih di kebun miliknya. Dengan memanggul tabung berisi pupuk cair, Apo mengelilingi seperempat kebun sembari menyemprotkan cairan pupuk ke tunas. Setelah cairan di tabung menyusut habis, ia menurunkan tabung dari punggungnya.

“Kini orang-orang sudah ramai-ramai mananam nanas di kebun. Dulu, sebelum ramai, kami menanam nanas dianggap aneh. Karena sawit jelas lebih menghasilkan,” paparnya.

Menurut Apo, bertanam nanas semakin banyak digeluti oleh setiap rumah tangga di Kampung Penyengat. Buah nanas berlimpah ruah, dalam satu bulan, tidak kurang dari 20 mobil truk mengangkut nanas dari Kampung Penyengat. Mobil-mobil truk tersebut, memboyong nanas menuju kota Pekanbaru hingga ibu kota Jakarta. Hasilnya mencapai 10.000 butir saban minggunya.

“Dulu saya dianggap orang gila karena menumbangkan pohon kelapa sawit dan menggantinya dengan nanas.” jelas Apo.

Dia menunjukkan sisa tapak pohon kelapa sawit yang lapuk. Tapak sawit itu tampak sudah menghitam, beberapa bagiannya telah lapuk dimakan usia. Sisa pelapukan, lanjut Apo berperan menambah hara tanah sehingga meningkatkan kesuburan nanas miliknya. Di bekas lahan itu, Apo menanam ribuan rumpun nanas.

Mungkin buaian hasil besar dari tandan sawit, melenakan banyak orang untuk berbondong-bondong menanam sawit. Termasuk Apo, yang juga ikut menanam sawit kala itu. Namun dia lantas menyadari bahwa berkebun sawit di lahan gambut tidaklah produktif. Hasil yang didapatkan dari sawit tidak sebanding dengan biaya besar perawatannya.

Nanas menjadi harapan baru bagi masyarakat Penyengat untuk menopang perekonomian keluarga. Berlimpah ruahnya buah nanas sekarang, tidak hanya memperbaiki perekonomian. Laku gotong royong yang semakin hari nyaris sulit ditemui, kini mulai terbangun dalam keseharian masyarakat.

Tak ada bahasa upah, tutur Apo, panen nanas dibantu dengan bergotong royong dan diakhiri dengan makan bersama di kebun. Masa panen setiap kebun berbeda-beda antara pemilik satu dengan yang lainnya. Hal ini yang menjadikan mereka, bahu-membahu memetik buah sampai tersusun di bak mobil. Tata dilakukan secara bergeliran diantara pemilik kebun.

Dalam tiga tahun belakangan ini, saban hari Apo melawan terik dan lelah bersama kelompok petani Bina Tani Harapan. Kelompok ini beranggotakan 13 kepala keluarga. Meski sembilu daun nanas seringkali melukai tangan, mereka terus berjibaku dengan waktu tanpa sempat menggerutu.

“Nanas jauh lebih menguntungkan dari pada sawit!” tandas Apo.

Menurutnya, penghasilan dari nanas bisa mencapai 15-20 juta rupiah sekali panen. Dalam satu tahun, kebun nanas dapat di panen 3 sampai kali, tergantung luas lahan dan usia tunas. Dibanding sawit, pendapatan keluarga Apo meningkat.

Harapan baru ini tentunya juga memelihara bentang gambut Rawa Penyengat dari serbuan api. Api selama bertahun-tahun menjadi musuh utama lahan gambut kini semakin dapat dikendalikan.

“Dulu, kebakaran kerap terjadi. Tidak jelas dari mana sumbernya, tiba-tiba api menyala dan menghanguskan apa saja yang ada. Namun sejak bertanam nanas, api jauh lebih bisa dikontrol,” paparnya.

Kelompok tani dimana Apo bergabung melakukan upaya pencegahan kebakaran dengan membendung kanal-kanal yang ada. Bersama masyarakat, kelompok ini menjaga agar muka air di kawasan Rawa Penyengat berada dalam level yang optimum dalam mencegah kebakaran. Upaya gotong royong tak lagi sulit karena masyarakat sadar bila kebakaran melanda, maka kebun nanas akan berubah menjadi petaka.

Dalam hati Apo berpendar, gambut tak lagi boleh membara. Dari tunas nanas di kampung, setidaknya dapat meredam suhu bumi yang semakin panas.

**Muhamad Isomuddin
19/07/17

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture. Click on the picture to hear an audio file of the word.
Anti-spam image